[Raka P1] Kejutan di Pagi Hari
Perkenalkan, namaku Raka. Aku adalah siswa kelas 2 sebuah SMA swasta favorit di daerahku. Di sekolahku, aku adalah salah seorang pria idaman para wanita. Betapa tidak, wajahku tampan, bersih terawat dikarenakan latar belakang keluargaku yang cukup mampu. Selain itu, aku selalu berada di peringkat 10 besar paralel di sekolah. Tubuhku cukup ideal untuk pria seusiaku. Atletis, dengan tinggi 167 cm dan berat 55 kg. Kulit ku putih. Rambutku pendek dan aku selalu membiarkan kumis dan jenggotku sedikit tumbuh sehingga bulu-bulu itu terasa kaku ketika dipegang.
Aku adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Bisa dibilang, aku adalah satu-satunya lelaki di rumah ini. Ibuku sudah lama tiada dan ayahku selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dalam satu minggu, beliau hanya dua hari berada di rumah, pada hari Sabtu dan Minggu karena lokasi kerjanya cukup jauh.
Kakak tertuaku, Eka namanya, adalah mahasiswi semester 9 di sebuah kampus negeri yang cukup dekat dengan rumahku. Cukup 20 menit perjalanan dengan sepeda motor. Tingginya 158 cm dan beratnya 45 kg. Tidak gemuk dan tidak terlalu kurus. Mungkin karena porsi tubuh yang ideal inilah yang membuat payudara berukuran 32 B nya sering terlihat menonjol. Mata sayu yang terpasang di wajahnya yang dewasa membuat kecantikannya memiliki nuansa yang berbeda. Ditambah dengan bibirnya yang sensual, aku tidak yakin ada pria yang mau menolaknya. Kulitnya sangat mulus dengan warna kuning langsat. Rambutnya lurus bergelombang, tapi tidak pernah dipanjangkannya melebihi bawah bahu. Dibandingkan adik-adiknya, penampilan kesehariannya sangat sederhana. Mungkin inilah yang memberinya kesan dewasa.
Kakak keduaku, Fitri namanya, adalah mahasiswi semester 5 di kampus yang sama dengan kak Eka. Meski sekampus, tapi mereka dipisahkan oleh jurusan, fakultas dan gedung yang jauh jaraknya sehingga mereka jarang saling bertemu di kampus. Kak Fitri memiliki fitur wajah yang serupa tapi tak sama dengan kak Eka, wajah cantik dengan mata sayu dan bibir sensual yang pas dengan wajahnya. Rambutnya yang juga lurus bergelombang dipanjangkan sedada dan disemir pirang di ujung-ujungnya. Selain itu, kak Fitri lebih tinggi dari kak Eka, 163 cm, dan berat 47 kg, yang membuatnya terlihat lebih kurus dari kak Eka. Tubuhnya memang lebih ramping dan buah dadanya lebih kecil, yakni 32 A. tapi itu sama sekali tidak mengurangi pesonanya, terbukti dengan seringnya ia ditawari pekerjaan menjadi model sejak awal masuk kuliah.
Adikku, Erlina, adalah siswi kelas 3 SMP Negeri favorit. Tidak berbeda jauh dengan kakak-kakaknya, Erlin selalu mendapat peringkat tinggi di sekolahnya. Ya, kedua kakak ku pun selalu mendapat peringkat tinggi ketika di sekolah, dan tetap dipertahankan di kuliah dengan IPK 3,5. Tingginya 155 cm dan beratnya 42 kg. Cukup tinggi untuk anak seusianya, tapi memang dia sangat kurus. Wajahnya tetap cantik dengan mata yang lebih lebar yang juga terlihat sayu serta bibir yang sensual. Matanya minus, karena itulah dia selalu memakai softlens yang justru menambah kecantikannya. Mungkin karena pergaulan anak zaman sekarang, penampilan Erlin begitu modis, seperti kak Fitri, meski ia masih duduk di bangku SMP.
Serumah dengan tiga gadis cantik memang hal yang menyenangkan. Bukan karena aku bernafsu dengan saudaraku sendiri, meski kalau di rumah, mereka sangat tidak karuan dalam berpakaian. Melainkan karena aku serasa dimanja oleh 3 orang istri. Hahaha. Makanan tidak perlu banyak dipikirkan karena mereka selalu bergantian memasak. Selain itu, kulkas juga selalu penuh oleh jajanan yang tidak lazim, tapi enak. Karena jajanan inilah aku sering berantem dengan kakak-kakak ku. Pakaian ku pun selalu bersih dan wangi dicucikan oleh mereka. Selain itu, rumah juga selalu dalam keadaan bersih dan rapi. Mungkin karena itulah teman-temanku, baik laki-laki maupun perempuan sangat suka bermain ke rumahku. Terima kasih, saudaraku, aku jadi anak populer. Hehehe.
Hari ini hari Sabtu, saatnya bagi ayahku untuk pulang ke rumah. Kami makan malam bersama dan saling berbagi cerita dengan beliau tentang berbagai hal. Ini adalah tradisi yang selalu kami lakukan pada Sabtu malam dan Senin pagi. Berlima, kaki duduk mengitari meja makan.
Kak Eka mengenakan daster hijau muda. Samar-samar aku bisa melihat putingnya sedikit menonjol di balik dasternya. Kak Fitri mengenakan kaos putih ketat dan rok pendek. Di balik kaosnya aku bisa melihat garis-garis BH pink yang dikenakannya. Erlin, si bungsu, mengenakan kaos dan mini jeans. Pakaian sembarangan yang mereka kenakan ini pastikah membuat laki-laki lain sangat bernafsu mencumbu mereka. Tapi aku tidak. Aku adalah saudara mereka dan sudah sangat sering melihat mereka berpakaian acak-acakan, terutama saat ayah tidak berada di rumah.
“. . . terus, akhirnya Sandi dipanggil guru BK. Biar tau rasa dia.” Kata Erlin sambil merengut.
“Hahahaha. Cowok itu memang paling nakal pas SMP, Lin. Ayah dulu juga begitu.” Sambut ayahku sambil tertawa, diiringi senyum nostalgia dari bibirku.
“Iiih, sebel! Masa ayah nggak marah sih, anaknya dijahatin kayak gitu?” timpal Erlin setengah berteriak.
“Mungkin dia naksir kamu, Lin.” Celetuk kak Fitri.
“Iya, tuh. Dulu cowok yang sering jahilin kakak juga ternyata naksir sama kakak.” Kata kak Eka menimpali. “coba deh nanya Raka, dia juga gitu enggak.”
“Enggaklah!” belaku. “Kalo aku mah, kalo naksir PDKT aja. Nggak perlu jahilin anak orang.”
“Dasar cowok payah. Cewek tuh sukanya sama cowok yang agak nakal, tau.” Kata kak Fitri.
“Siapa emang?” tanyaku
“Yaa, kayak Sandi itu”
“Yang tanya. Hahahahahaha.” Tawa kami menggelegak meski candaanku harus dibayar dengan sendok yang menghujam telapak tanganku.
“Ih, apaan sih? Kalo nggak bisa bales aku ya nggak usah pake fisik donk!” bentak ku.
“Sudah-sudah, udah gede koq masih berantem” Kata ayahku menengahi. Suasana malam itu sama seperti suasana malam-malam ketika ayahku pulang. Kami memang sangat sayang sama Ayah. Semenjak kepergian Ibu, ayah tetap menjadi sosok yang kuat untuk menopang hidup kami. Malam itu aku tidur dengan sangat nyenyak.
Aku bangun pukul setengah lima pagi. Hari ini, berbeda dari hari-hari sebelumnya, aku berniat untuk jogging di taman kota. Selain untuk kebugaran dan menambah stamina, tempo hari aku juga mendengar dari temanku bahwa gadis-gadis cantik sering jogging di taman kota pada Minggu pagi. Membayangkan gadis-gadis memakai legging dan tanktop dalam keadaan yang sangat basah oleh keringat membuatku begitu semangat. Aku melakukan pemanasan di halaman belakang rumah karena malu dilihat tetangga kalau melakukannya di halaman depan. Di saat aku melakukan stretching, sayup-sayup ku dengar suara desahan-desahan yang memancing rasa penasaranku. Desahan itu muncul dari kamar kak Eka, yang memang berada di bagian belakang rumah.
“Dasar kak Eka. Nonton bokep koq suaranya keras-keras. Dikira nggak ada orang yang denger kali yah?” batinku. “coba ngintip ah.”
Aku mengintip dari sudut jendela yang tidak tertutup gordin. Samar-samar aku melihat tubuh kak Eka yang telanjang bulat sedang duduk di atas guling. Pinggangnya yang gemulai digoyang-goyangkan ke berbagai arah. Desahannya yang begitu menikmati permainan itu membuat suasana ruangan menjadi sangat erotis. Susunya yang padat diremas-remas dengan ganas oleh orang yang dinaikinya. Matanya yang sayu dan senyumnya yang yang menggoda . . . Ahhhhh. Membuat siapapun sangat tidak tahan.
“Ahh. Aahhh. Aahhhh. Ah." Desah kak Eka. “Nikmat. Nghh. Eka mau disemprot sama pejuh kamu. Ahhh.”
“Disemprot dimana?”
“Dirahim akuh. Ahhhh... Bikin Eka hamil. Heh. Hah. Aaahh.”
Wah, ternata kak Eka binal juga di ranjang. Eh.. Tunggu dulu. Tunggu!!! Tangan siapa itu!? OMG!! Itu tadi bukan guling! Oit, itu memang guling. Tapi di balik guling ada orangnya! Dan orang itu sedang ngentot dengan kakakku. Sial! Siapa orang yang berani menyelinap ke dalam rumahku ketika ayahku sedang di rumah? Terlebih, kak Eka terlihat sangat menikmati permainan itu. Sialan! Pasti kak Eka bersekongkol dengan dia. Siapa dia? Pacarnya? Temannya? Atau siapa?
Aku semakin menempel pada jendela berharap bisa melihat wajah lelaki biadab itu, tapi nihil. Yang bisa aku lihat hanya bantal guling. Ingin rasanya kudobrak jendela itu, tapi kepalaku masih cukup dingin. Kuraih smartphone ku dan kuvideo adegan erotis itu sebagai bukti agar mereka tidak bisa mengelak.
Satu menit berlalu, kemudian mereka berganti posisi doggy style. Kulihat kontol ayah yang begitu tegap, keras dan hitam menusuk-nusuk memek kak Eka dengan sangat bersemangat. Desahan kak Eka yang tadi elegan kini berubah menjadi erangan liar.
“Ampun, yaah. Ah. Ah. Ampuhhnn.” Erang kak Eka.
“Sekarang baru minta ampun? Bukannya tadi kamu menikmati kontolku?”
“Enak banget yah. Ah. Ah. Ah. Enak.”
“Tadi ampun, sekarang Enak?”
“Enakhh. Ah. Bah nget. Hyah. Ah. Jangan brenti! Ah. Jangh han dilepasss. A h.”
Hatiku mencelos. Ayahku sedang ngentotin kak Eka! Ayahku yang begitu asyik dan pengertian. Yang tidak pernah bosan mendengar cerita dan curhatan kami, yang selalu terlihat tegas tapi matanya penuh kasih sayang. Ayah yang selama ini ku kenal begitu bijaksana dan berwibawa sekarang kulihat sedang menggenjot memek anak tertuanya. Darah dagingnya.
Erangan-erangan liar masih terdengar.
“Ayah entotin Ekkaaaa.. Ayah hamlin Ekaaah... Haaahhh.. Ngghhh... Ahh..”
Plak! Plak! Plak!
“Anak nakal! Ayah sendiri dientot! Kamu harus hamil! Hamil!”
Tubuhku terhuyung ke belakang. Aku benar-benar shock. Segera kukantongi kembali smartphone ku. Pikiranku kosong. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ku llhat. Pikiranku benar-benar kacau. Aku ingin marah, ingin berteriak, tapi aku terlalu kecewa. Aku sangat kecewa sehingga aku tidak dapat melakukan apa-apa. Begitu aku tersadar dari lamunanku, entah bagaimana aku sudah sampai di taman kota.
“Ah, aku tidak mau memikirkannya. Apa yang terjadi terjadilah. Bukan urusanku. Mereka orang dewasa. Punya hak apa aku, yang lebih mudah dari mereka, untuk memprotes kelakuan mereka?” batinku. Maka aku pun berlari. Berlari sekuat tenaga berusaha menghindar dari kenyataan yang baru saja aku alami.



Comments
Post a Comment