[Raka P2] Teman Masa SMP
Minggu pagi begitu cerah. Embun masih membasahi rerumputan yang hijau dan bunga-bunga yang sengaja ditanam di pinggir jalan pun tak terhindarkan dari sambutan embun pagi. Tidak banyak kendaraan yang lewat. Orang-orang sepertinya sudah mengerti dan sepakat untuk menjadikan alun-alun sebagai daerah bebas asap di hari Minggu pagi.
Mentari pun bersinar cerah dengan kehangatan yang menenangkan. Namun, kecerahan mentari tidak mampu mencerahkan hatiku yang masih kacau akan apa yang ku lihat pagi ini. Dengan wajah murung aku berlari mengitari taman kota yang sudah mulai ramai dengan orang-orang yang juga berolahraga.
PLAK! Punggung ku ditampar oleh seseorang dari belakang.
“Anjing!” bentakku.
“Guk guk guk. Eh, sialan ngatain orang anjing. Lu yang Anjing.” Jawab orang yang menepuk bahuku.
“Loh, Wina?” Jawabku setengah bingung.
"Baik. Lama nggak ketemu, udah pangling aja nih gue."
"Lah, masa sih?"
Beneran!
Setidaknya, begitulah suara batinku. Wina adalah teman SMP ku. Kami dua tahun berada di kelas yang sama, dari kelas dua hingga kelas tiga. Wina yang dulu ku kenal adalah gadis kurus berkulit putih dengan wajah yang biasa saja. Setahun lebih tak bertemu, kini dia sudah memoles mukanya dengan bedak dan membuat wajahnya tampak lebih menarik, meski polesannya masih terlihat amatir. Tetapi make up tidak akan membuatku terheran-heran. Yang paling mengejutkanku adalah pertumbuhan tubuhnya yang membuatku menelan ludah seketika.
"Iya, sekarang tambah gendutan," jawabku.
"Idiih.. Bilang aja montok," protesnya.
Wina tidak salah. Daripada gendut, montok adalah kata yang sangat tepat untuk mendeskripsikannya. Jika dulu tubuh Wina kurus dan tidak begitu menarik, kini setiap lekuk tubuhnya seakan mengundang setiap lelaki untuk menjamahnya. Payudaranya besar dan padat, dengan jejak BH yang samar di balik bajunya yang ketat. Pahanya yang montok membuatku membayangkan kenikmatan yang akan didapat jika kejantananku dijepit oleh dagingnya yang padat.
"Yah, elu mah mintanya dipuji doang," ledekku.
"Iyalah, namanya juga cewek," jawabnya dengan gestur sok cantik. Aku hanya manggut-manggut demi menghindari cekcok.
Kami mengitari alun-alun bersama sambil ngobrol santai. Dengan Wina di sampingku, aku jadi tidak bisa fokus dengan obrolan kami. Payudaranya yang besar bergoncang-goncang di setiap langkah yang ditapak. Bau keringatnya yang mencapai hidungku membuat darahku semakin berdesir. Dengan detak jantung yang tak teratur, aku jadi lebih gampang ngos-ngosan.
"Main ke rumahku, yuk," ajak Wina ketika kami beristirahat.
"Ngapain?" tanyaku dengan nada heran.
"Ya main-main aja. Rumahku sepi nih gara-gara ortuku dinas keluar pulau."
"Terus lo sendirian di rumah?"
"Ada kakak, sih.. Tapi ya tetep aja sepi."
"Main-main, kek, sama kakak elo," ujarku mencoba memberi saran.
"Kalo main, mah, udah, Tapi kan itu di luar."
"Emang kenapa kalo di luar?"
"Ya berarti nggak di rumah dong, Raka.. Ya ampun gitu aja ga ngerti."
"Maksud gue, main keluar biar ga bosen," jawabku membela diri.
"Kalo lagi main mah nggak bosen. Kalo lagi di rumah rasanya sepi aja."
"Oohh.." Jawabku singkat karena bingung harus menjawab apa.
"Ayo deh main ke rumah. Ntar gue masakin," ajak Wina sekali lagi. Aku berpikir sejenak. Mungkin lebih baik aku tidak segera pulang dan mampir ke tempat Wina lebih dahulu untuk meredam kegalauanku.
"Oke deh," jawabku.
"Angkat sini," pinta Wina sambil mengangkat tangannya ke arahku. Aku pun menyambut tangannya demi membantunya berdiri. Aroma tubuhnya sekali lagi menjamah hidungku. Dengan posisi kami yang hampir bertubrukan dari caraku membantunya berdiri, aku hampir berharap bisa merasakan payudaranya menabrakku. Tapi tentu saja itu tidak terjadi.
Rumah Wina cukup dekat dengan alun-alun. Sekitar lima belas menit kami berjalan kaki hingga akhirnya tiba di rumahnya. Ketika Wina mencoba membuka pintunya, ternyata pintunya terkunci. Untung saja ia membawa kunci rumah sehingga kami bisa masuk.
"Jangan bengong aja, ayo masuk," ajaknya. Aku pun menurutinya dan masuk ke dalam rumah. Rumah minimalis seperti ini terlihat manis dari luar, tetapi cukup sempit di dalam. Tapi mungkin ini hanya perasaanku saja, yang telah hidup di rumah dengan ukuran cukup besar selama bertahun-tahun.
"Gue mandi dulu, ya," pamitnya.
"Jangan lama-lama," pintaku. Bukan apa-apa, hanya saja ditinggal sendirian di rumah orang seperti ini membuatku merasa canggung. Benar saja, sepuluh menit lebih aku menunggu dan Wina tak kunjung muncul.
"Eh, Raka, kalo mau liat TV boleh, lho," ucap Wina yang muncul tiba-tiba dari balik tembok ruang tamu. Darah kelelakianku berdesir menyaksikan seorang gadis remaja bertubuh menggoda hanya mengenakan handuk kimono dengan rambut yang sedikit basah. Pakaian itu hanya menutupi sampai setengah pahanya, membuatku dapat dengan leluasa menikmati paha putih dan montok.
Jantungku hampir meledak ketika Wina menghampiriku. Tanpa aba-aba, ia langsung berjongkok di depanku. Kerah kimono yang lebar tak berdaya ditarik gaya gravitasi, membuatku dapat melihat isi di dalamnya. Payudara Wina yang besar menjuntai dengan indahnya. Di antara kedua gunung itu terdapat celah yang membuatku mampu mengintip perutnya yang putih. Dan yang paling istimewa, di ujung pandanganku, aku dapat melihat rambut lebat yang menutupi kewanitaan gadis itu.
Sebagai remaja laki-laki yang sehat, tentu saja aku grogi luar biasa. Ingin rasanya aku langsung mendekap dan memerkosanya saat itu juga. Akan tetapi, akal sehat masih mengikat erat otot-ototku sehingga aku tidak melakukan hal biadab itu. Ketika ia bangkit berdiri, aku hanya bisa pasrah. DI tangannya kini tergenggam remote untuk TV yang ada di seberang ruangan. Majalah dan koran yang berantakan di atas meja kini terlihat rapi. Setelah selesai menyetel TV, Wina pergi dan tak terlihat lagi. Lima menit kemudian, ia muncul lagi dengan penampilan baru.
"Kamu mau nunggu di sini apa bantuin masak?" tanyanya memecah lamunanku.
"Mmm... Ikutan aja deh," jawabku sebagai modus untuk dapat lebih berlama-lama memandangi teman masa SMP ini.
Di dapur, kami saling berbagi tugas. Aku mendapat tugas menggoreng lauk sedangkan Wina memasak sayur. Setiap momen ini kunikmati sepenuh hati. Sesekali aku dapat melihat payudara Wina yang mengintip dari balik kerah U-neck-nya. Tidak hanya itu, pantatnya yang montok pun terlihat menggoda ketika ia berjalan ke sana kemari. Di setiap langkahnya, pantatnya bergoyang ringan ke kiri dan ke kanan membuat darahku berdesir makin hebat.
"Elo ga takut, Win, di rumah sama gue doang?" Tanyaku di antara obrolan kami.
"Harusnya takutnya kalo sendirian, dong. Gimana, sih?"
"Jadi lo takutnya sama demit doang, nih? Sama gue kagak?"
"Hahaha.. Ngapain takut sama elo? Kalo macem-macem gue tusuk nih," jawabnya sambil memeragakan adegan menusuk dengan pisau dapur di tangan kanannya. Aku hanya tertawa dan mengganti topik pembicaraan.
Tak lama, makanan pun siap. Untuk ukuran masakan seorang gadis remaja, makanan yang tersaji cukup mewah. Lauknya ada sosis, nugget, dan telur hasil gorenganku. Sementara itu, Wina menyajikan tumis kangkung dan sambal. Sungguh berkah yang sangat kusyukuri dapat menikmati makanan enak sambil menatap bongkahan susu Wina yang padat ketika ia menunduk untuk menyuap makanan.Dalam situasi seperti ini, ngaceng adalah hal normal dan aku kembali bersyukur karena gundukan batangku tertutup oleh meja makan.
"Biar gue yang bersihin. Lo duduk manis aja di sini," perintah Wina saat kami selesai makan.
"Yah, masak udah dikasih makan gratis nggak bantu beresin," protesku.
"Iya gapapa. Lo kan tamu. Lo duduk manis aja pokoknya," jawab Wina memaksa.
Aku pun pasrah. Jika Wina sudah memaksa, dia tidak akan mau menyerah begitu saja. Contohnya tadi pagi saat ia mengundangku ke rumahnya. Tetapi bukan cuma kejadian itu yang meyakinkanku akan sifatnya ini. Sebagai sesekrang yang telah mengenalnya selama dua tahun saat SMP dulu, aku sudah cukup tahu akan sifatnya ini. Hampir tidak ada orang yang bisa lolos darinya jika ia sudah memaksa. Sifat ini membuat beberapa teman sekelas merasa risih, tetapi tidak begitu mengganggu secara umum karena memang tidak terlalu sering terjadi.
Dengan Wina pergi, aku memperbaiki posisi kontolku yang tidak nyaman karena tertahan celana. Saat memegang batang itu, muncul godaan bagiku untuk mengocoknya dan memuntahkan cairan nikmat. Akan tetapi, aku sadar aku berada di rumah orang dan Wina bisa muncul setiap saat. Karena itulah aku hanya mengocoknya sebentar saja dari balik celana trainingku, kemudian membenarkan posisinya lagi supaya nyaman.
Tidak melihat Wina selama beberapa menit membuatku kesepian. Dengan mengendap-endap, aku menghampirinya dari belakang. Sepertinya dia sangat berkonsentrasi pada kegiatan mencuci piring hingga tidak menyadari kedatanganku.
"Ba!!" teriakku seketika untuk mengagetkannya. Tak lupa tanganku kugenggamkan pada bahunya dan kepalaku kudekatkan sedekat-dekatnya untuk dapat mencium bau tubuhnya barang sejenak.
"Waaahhh!! Ih, apaan sih?" protes Wina sambil membalik badan.
Blug.
Saat ia berbalik, payudaranya yang besar menyenggol tanganku yang memang kusiapkan di posisi terbaik.
"Iiihh.. Tuh, kan, kena," protesnya lagi.
"Ehehehee.. Sorry ga sengaja," jawabku berusaha ngeles.
"Sebel!" gerutunya sambil menampilkan wajah cemberut.
"Sorry deeh.."
"Ogah!"
"Please.." rajukku. Akan tetapi, Wina justru memalingkan muka.
"Duuh.. Jangan marah dong," aku berusaha merajuk lagi, tapi Wina tidak merespon.
"Hei," pancingku sambil mencolek tangannya.
"Cantik," pancingku lagi.
"Si cantik kalo ngambek jadi jelek. Ayolah, ayolah."
Aku berusaha memancingnya dengan mencoleki lengannya, tapi tidak ada respon. Dengan memberanikan diri, kucoba mencolek pinggangnya sambil merajuk. Dengan refleks, Wina mulai menunjukkan respon. Kuulangi lagi dan lagi, kucolek pingangnya, lengannya, punggungnya, lehernya, dagunya, dan kuberanikan untuk mencolek di dekat pantatnya.
"Hihihi.. Udah iiiih," akhirnya Wina bersuara.
"Makanya jangan ngambek,"
"Iyaaa.. Udah nggak ngambek nih."
"Nah, kalo senyum gitu kan cantik."
"Ya cantik, lah!"
Bruk! Tanpa aba-aba, tangan Wina menubruk kemaluanku, kemudian meremasnya.
"Aw! Lhoh, kok curang?" pekikku tidak terima. Si pelaku justru melarikan diri ke ruang tamu sambil terbahak-bahak.
Aku mengejarnya. Tidak butuh usaha ekstra untuk dapat menangkapnya, kemudian menguncinya di atas sofa. Kini, posisi kami seperti orang doggy style. Wina mengelungkan badannya sementara aku menindihnya sambil tanganku memegang tangannya. Kontolku yang ngaceng kutekankan pada pantatnya. Dalam situasi seperti ini, aku sangat bersyukur mengenakan celana training.
"Ngaceng tuh," goda Wina sambil cekikikan.
"Iya emang. Kalo ngaceng harusnya diapain?" Jawabku sambil memberanikan diri menggesekkan kontolku di pantatnya.
"Dibikin lemes?"
"Nah itu tahu."
"Ya udah lepasin dulu."
"Kenapa harus gue lepas?"
"Mau dibikin lemes nggak?"
"Beneran nih mau bikin lemes?"
"Beneraaan."
Aku pun melepaskan kuncianku. Kini aku berdiri di hadapan Wina yang duduk manis di sofa. Kontolku yang ngaceng tampak mencuat dari balik celana trainingku. Sesaat, kami saling pandang.
Buak!
"Woi!" Bentakku. Seketika, aku langsung menubruk Wina kembali. Kali ini, tanganku kudaratkan di payudaranya. Tidak seperti sebelumnya, Wina kini terbahak-bahak ketika susunya kusentuh dan kuremas-remas. Hanya tangannya saja yang memberikan perlawanan lemah dengan memegang lenganku.
"Katanya mau dilemesin? Baru mau mulai malah marah," ujar Wina sambil masih tertawa.
"Dilemesin kok pake dipukul."
"Iya dong. Orang kalo digebugin kan juga lemes."
"Ya beda lah sayaaang," jawabku sambil meremas makin keras.
Ini adalah pertama kalinya bagiku meremas dada seorang wanita. Meski demikian, aku cukup tahu bahwa dada Wina berukuran cukup besar. Jika dibandingkan dengan teman-teman sekelasku, mungkin hanya ada dua atau tiga orang saja yang bisa menyaingi ukuran dadanya.
"Bajunya nya gangguin ih," gerutuku sembari menyingkap kaosnya. Gundukan besar payudara yang tertutup bra warna putih berguncang indah di depan mataku. Kusibak pula bra itu dan tampaklah sepasang puting cokelat kemerahan yang menanti untuk dimainkan. Tanpa pikir panjang, langsung kusasarkan mulutku ke puting kanan Wina dan kumainkan puting itu dengan mulutku.
"Aaaaahhhh... Ampun enak bangeeeeeettt," desah Wina keenakan.Aku yang tengah menikmati puting untuk pertama kalinya menjadi makin bersemangat ketika mendengar desahan Wina yang tak pernah berhenti. Sesekali puting itu kuhisap, kemudian kupilin dengan lidah. Puas dengan satu puting, aku berpindah ke puting yang lain. Puting yang tidak sedang mendapat servis dari mulutku mendapat servis dari tanganku. Tak lupa pula sesekali kusematkan bekas cupangan di sekitar payudaranya. Begitu aku selesai menikmati buah itu, tampak kulit susu Wina yang putih telah banyak ternoda bekas cupanganku.
"Basah nih," rajuk Wina. Kedua tangannya sudah terselip di balik celana gemasnya.
"Kalo basah ya dilepas biar kering," jawabku sambil memelorotkan celananya sampai lutut. Begitu celana melorot, tampaklah tangan Wina yang berusaha menutupi kemaluannya sendiri. Dia tidak memakai celana dalam, yang tentu saja membuat darahku berdesir.
"Ngapain ditutupin, sih? Lepas lah," pintaku sembari menarik tangannya.
"Malu iiih," jawab Wina sambil memberikan sedikit perlawanan tak berarti. Kini di depanku terpampang memek Wina yang ditumbuhi bulu hitam di sekitar lubangnya. Labia mayoranya tembem, dengan kelentit berwarna kecokelatan. Aku hanya bisa terperangah menatap memek wanita sedekat ini untuk pertama kali. Tentu saja aku penasaran dengan rasa memek ini, tetapi aku tidak ingin terlalu buru-buru.
Krrrrrrrreeeeeeeeeekkkk.......
Suara gerbang yang dibuka terdengar sampai ruang tamu. Spontan, kami berdua langsung meloncat menjauh dan membenarkan posisi masing-masing. Aku yang meloncat ke belakang mendapati kakiku terhantam meja sebelum pantatku sempat menemukan sofa. Sementara itu, Wina yang berhasil mengenakan celananya lagi langsung merebahkan diri di sofa tempat kenakalan kami terjadi.
"Eh, ada tamu," ucap orang yang mengganggu kegiatan kami. Aku hanya bisa tersenyum canggung sementara mataku mengikuti gadis bertubuh semok itu hingga ia menghilang di ruang belakang.






Comments
Post a Comment