[Raka P3] Sekolahku


"Yah, lauknya cuman pake telor doang, nih?" Tanyaku kecewa.

"Ga usah protes! Kak Eka udah berangkat dari tadi. Ga sempat masak," jawab Kak Naya ketus. Aku yang tak punya pilihan lain hanya manggut-manggut dan menyantap hidangan yang ada.

"Itu ada sambel sama teri buat tambahan lauk," tunjuk Kak Naya. Aku pun dengan malas mengambil apa yang ada dan berusaha menikmatinya. Aku sebenarnya tidak masalah dengan lauknya. Hanya saja, nasi yang tidak diberi kuah rasanya sangat kurang. Dan mengingat kemampuan memasak Kak Naya yang jauh dari Kak Eka, rasanya memintanya memasak sesuatu yang berkuah hanya akan berbuah kekecewaan.

"Kak Eka kemana emangnya?" Tanyaku.

"Ada kelas pagi katanya," jawab Kak Naya singkat.

"Erlin?"

"Udah berangkat juga."

“Ooh,” Jawabku mengakhiri pembicaraan. Aku segera menyelesaikan makanku dan bersiap berangkat sekolah. Tak lupa aku berpamitan dengan Kak Naya meski mood-ku kurang bagus akibat hidangan yang kurang menggairahkan. Sepeda motor kulajukan dengan santai sambil menikmati udara pagi.


Aku tiba tepat ketika bel berbunyi. Pak satpam yang sudah hapal dengan kelakuanku hanya menatapku dengan berkacak pinggang. Kusempatkan untuk tersenyum padanya sebelum ngeloyor pergi menuju parkiran sekolah.


Kali ini aku berjalan santai menuju kelasku, kelas IPA 1. Tidak seperti biasa, hari ini tidak ada PR yang menanti untuk dikumpulkan.  Karena kelas IPA berada di lantai dua, maka aku harus melewati beberapa kelas IPS. Kusapa beberapa orang yang aku kenal, laki-laki maupun perempuan. Beberapa di antaranya mungkin menarik selera kalian. Sebut saja Fatma, si gadis berjilbab berpipi tembem dan bergigi kelinci. Saat kelas satu, dia adalah teman sekelasku. Menurutku dia cantik. Tapi entah kenapa, dia tidak terlalu populer di sekolah.



Ada juga Dini, gadis berparas imut nan mungil, dari kelas IPA 3. Aku mengenalnya dari OSIS. Sejak kami berkenalan, setiap bertemu denganku, dia selalu melambaikan tangannya dengan pose yang imut. Tentu saja hal ini membuatku ge-er, tapi aku selalu menjaga sikap supaya tidak terlihat norak.


Sekolahku memang terkenal salah satunya karena memiliki stok gadis cantik yang cukup banyak. Hal ini juga menjadi salah satu faktor kenapa aku memilih sekolah ini, hehehe. Di kelasku saja, hampir separuhnya bisa dibilang cantik. Ah, kalau tidak cantik, setidaknya wajah mereka tidak malu-maluin untuk diajak kondangan.

Ah, ya, aku adalah anggota OSIS. Selain OSIS, aku juga ikut ekskul Marching Band sebagai peniup terompet dan ekskul Pramuka sebagai Bantara. Selain ketiga ekskul yang aku sebut, aku juga ikut kelas Badminton di luar sekolah. Sebagai siswa yang aktif, aku sering sekali pulang sore. Syukurlah aku termasuk anak yang berotak encer sehingga aku tidak pernah ketinggalan materi pelajaran dan justru mendapatkan ranking tinggi di sekolah. Ah, sepertinya aku sudah pernah menceritakan hal ini.

Tidak ada yang menyapaku di pintu kelas sebagaimana biasanya. Langsung kulangkahkan kakiku ke bangku tempatku biasa duduk. Varas, cowok bertampang keren dan tinggi kurus yang duduk di meja sebelahku, terlihat sibuk dengan ponselnya seperti biasa. Tanpa menyapa, aku langsung meletakkan tas dan duduk di bangkuku. Tidak ada gunanya menyapa Varas kalau dia sedang sibuk dengan ponselnya.


“Eee.. Dasar anak nggak tau sopan santun,” sebuah suara membuatku menoleh ke belakang. Tampak sesosok gadis tengah duduk di atas meja yang disusun di sudut belakang kelas. Meja-meja tersebut disusun sedemikian rupa karena memang jumlahnya berlebih.




“Ngobrol sama gue?” tanyaku.


“Ya, yang ngerasa aja, siiih..” Yang berbicara adalah Monika, salah seorang teman sekelasku. “Kalo ketemu princess tuh harusnya salaman dulu.”

“Apaan siih..” jawabku dengan wajah datar.

“Idiih.. Sini deh," ujar Monika sambil mengulurkan tangan seperti mengajak bersalaman.

“Iya, princess,” jawabku sambil menyambut jabatannya. "Puas?"


“Nah, gitu dong.”

"Tumben nggak sama Riris?" Tanyaku.

"Tuh, di belakang elo," jawab Monika singkat.



Saat aku menoleh, di hadapanku sudah berdiri seorang gadis dengan rambut berkepang dua. Mendapati namanya disebut-sebut dalam pembicaraan kami, dia hanya berdiri dengan wajah sok tak peduli.

"Lah, dateng ga bilang-bilang," sindirku.

"Maaf anda siapa?" jawab Riris sok tak kenal.

"Eh, Ka, kapan-kapan main yuk," ajak Monika.

"Main ya tinggal main," jawabku.

"Main yang jauh maksud gue," jawab Monika mengklarifikasi.

"Wah, ayok-ayok," timpal Riris.

"Emang mau kemana?" Tanyaku.

"`Ya yang jauh pokoknya. Pengen ganti suasana."

"Ya nunggu libur semester lah."

"Kelamaan!"

Belum sempat obrolan kami mendapatkan titik temu, kami harus menyudahinya karena Bu Jamal yang telah memasuki ruangan. Dia adalah seorang wanita berusia lima puluhan tahun, dengan tahi lalat besar di dagu. Di sekolah kami, beliau telah mengabdikan diri selama dua puluh tahunan sebagai guru biologi. Karena itulah beliau menjadi salah satu guru yang dihormati di sekolah ini.


Mata pelajaran di hari Senin sebenarnya tidak begitu berat. Setelah biologi di jam pertama, ada Bahasa Indonesia di jam berikutnya sebelum istirahat. Tapi bagiku yang baru kemarin hampir saja merasakan nikmat seorang wanita, rasanya tidak rela untuk begitu saja berpindah hari. Tentu saja. Rasa tubuh Wina masih membekas di seluruh inderaku. Harumnya, lembutnya, basahnya, desahnya, semua terngiang di otakku. Tapi itu tidak seberapa. Yang justru membuat gairahku membara adalah kakaknya. Ya, kakak Wina.

Saat pertama melihatnya kondisiku memang sedang panik. Tetapi beberapa saat setelahnya, ia kembali muncul dengan membawa dua cangkir teh dan cemilan untuk dihidangkan. Kali ini, dengan posisi saling berhadapan, aku bisa melihatnya dengan jelas. Gadis itu berwajah nakal dengan alis buatan yang sangat tebal dan softlens besar. Kulitnya putih dan dadanya besar sekali, lebih besar dari milik Wina. Mungkin karena usianya lebih tua dari temanku itu.



Begitu teh tersaji, dia bangkit dan menguncir rambutnya. Momen itu adalah momen yang paling tak terlupakan. Seorang gadis seksi dengan tanktop putih menguncir rambutnya di hadapanku. BH yang ia kenakan terlihat menonjol senada dengan payudaranya yang juga terangkat saat ia menguncir rambutnya. Ketiaknya yang putih pun terlihat, membuat darahku berdesir. Aku bertahan satu jam di rumah itu dengan harapan yang tak menentu sebelum akhirnya aku pamit pulang.

"Katanya lo mau main sama Moni sama Riris, ya?" Tanya Jeki, cowok berambut keriting dan bermata belo yang juga sekelas denganku.

"Kata siapa?" Tanyaku balik.

"Tadi gue denger lo ngobrol sama mereka, sih. Kalo mau main sama cewek ajak-ajak dong,"

"Jiah, orang jadi apa kagak aja belom tau."

"Ya elah, ya dijadiin, lah."

"Ya ntar dah, liat sikon dulu. Lagian maen ke mana kan juga belom tau." Ujarku mengakhiri pembicaraan.

Saat ini kami sedang berada di kantin. Waktu istirahat kami sekitar dua puluh menit, cukup untuk memesan sarapan. Makanan yang dihidangkan tadi pagi memang kurang memuaskan menurutku. Selain tidak ada kuah, sarapanku pagi ini juga kurang sayur sehingga tidak memenuhi standar makanan bergizi.

Sementara mulut dan lidah menikmati makanan, mataku berseliweran melihat orang-orang yang berlalu lalang. Kakak-kakak kelas tiga, terutama yang wanita, mencuri perhatianku dengan pesona mereka. Dengan usia yang mulai matang, tubuh gadis-gadis kelas 3 SMA mulai menunjukkan pesonanya. Tidak semua cantik dan menarik, memang. Tapi tentunya ada beberapa yang membuatku tertarik.



Salah satunya adalah gadis yang baru saja lewat di depanku bersama seorang temannya. Namanya kak Alda. Dia adalah seorang gadis berperawakan pendek dengan kulit seputih bidadari. Tingginya kutaksir hanya sekitar 154cm. Dadanya tidak terlalu besar. Di balik seragam OSIS, tubuhnya terlihat biasa saja. Tetapi saat mengenakan pakaian biasa, hasrat kelelakianku menggebu saat melihatnya.

Dia adalah sekretaris OSIS yang kini telah berada di kelas tiga. Sebagai sesama pengurus, aku dan kak Alda cukup sering bertemu dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh OSIS. Selain kak Alda, gadis-gadis yang mengikuti OSIS juga banyak yang cantik. Tentu saja, karena selain terkenal dengan siswa-siswinya yang cantik, sekolahku memiliki organisasi OSIS dan ekskul Marching Band di mana gadis-gadis berkualitass tinggi berkumpul.

Krrrriiiinggg... Krrrriiiiinnngggg... Kkrrrrriiiiinnngggg.....

Bunyi bell tanda selesai istirahat bergaung di seluruh sudut sekolah. Dengan buru-buru kuhabiskan es teh yang kupesan, kemudian menyusul teman-temanku membayar makanan. Biasanya aku ditraktir oleh teman-temanku. Akan tetapi, karena hari ini tidak ada PR, tidak ada pula jatah traktiran sebagai imbalan hasil contekan dariku.

Hari ini hari Senin. Jadwal sepulang sekolah pada hari Senin adalah rapat rutin OSIS. Mendekati akhir tahun, kegiatan yang harus diadakan menjadi semakin padat. Selain karena akan tutup buku dan berganti kepengurusan, perayaan ulang tahun sekolah juga diadakan di bulan Desember.

"Belom ada orang?" tanyaku pada satu-satunya orang yang berada di ruangan itu.



"Kelas tiga belom pada keluar," jawabnya. Yang kuajak bicara adalah seorang gadis dengan tatapan tajam menggoda bernama Viola. Meski seangkatan dan sama-sama di OSIS, tapi kami berada di kelas dan penjurusan yang berbeda. Dia kelas IPS 1 sedangkan aku kelas IPA 1. Tatapannya yang sedemikian rupa seringkali disalahartikan oleh orang-orang yang melihatnya sebagai tatapan menggoda. Saat pertama mengenalnya pun aku juga berpikir seperti itu. Akan tetapi setelah mengenalnya cukup lama dan seringnya kami berkomunikasi, kesan itu hilang dengan sendirinya.

"Terus yang kelas dua pada kemana?" Tanyaku lagi sambil menaruh tasku di meja sebelahnya.

"Tau, tuh. Tadi sih ada Rangga sama Vivi, tapi keluar lagi," jelasnya.

"Ooh.." jawabku seadanya.

Demi menghadapi ujian nasional, kelas tiga memang diberikan kelas tambahan. Akan tetapi, tidak biasanya mereka keluar kelas telat karena biasanya kelas tambahan diberikan pada jam ke nol. Mungkin kali ini mereka dikumpulkan di aula untuk pengarahan tertentu.

"Woi!" Bentak seorang lelaki berambut ikal berkulit cokelat. Dia adalah Deni, anggota OSIS dari kelas IPA 2 yang pernah sekelas denganku di kelas satu.

"Apaan sih," jawabku malas.

"Tadi gue ketemu sama kak Yos, katanya buat ultah sekolah nanti ada serangkaian acara," ujar Deni.

"Serangkaian gimana?" tanyaku bingung.

"Jadi ntar seminggu penuh bakal ada event tiap hari."

"Buset! Mana bisa kayak gitu? Emangnya sekolah libur kalo mau ultah?"

"Ya nggak tau sih, makanya kan sekarang mau rapat."

"Ya iya mau rapat, tapi kelas tiganya aja ga ada," ucapku menyangsikan.

Begitu selesai berucap, entah kebetulan atau apa, segerombolan siswa langsung berjubel masuk ke ruangan. Mereka adalah anggota OSIS dari kelas tiga. Anggota OSIS sendiri totalnya ada 24 orang, sepuluh di antaranya kelas tiga, sisanya kelas dua. Tiap tahun, isi dari anggota OSIS memang hanya dari dua angkatan saja.

"Oke, semuanya, mohon perhatian," ucap kak Delta sang ketua OSIS. Rapat pun dimulai. Benar saja, acara ulang tahun sekolah akan diadakan selama beberapa hari, setiap hari seperti yang diutarakan Deni. Konsep acara yang akan diadakan adalah serangkaian acara, di mana selama dua minggu akan ada empat acara terpisah yang akan dipungkas oleh acara pentas yang diadakan tepat pada hari ulang tahun sekolah. Aku yang saat itu hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan yang diberikan, tanpa tahu apa yang akan terjadi nanti.





Comments

Bugil Populer