[Raka P4] Basah Kuyup

Matahari mulai meninggi semenjak aku menunggu di sini. Es teh yang ku pesan hampir habis sementara piring kosong bekas makananku masih tergeletak di hadapanku. Di angkringan tempat aku sarapan, aku menunggu kemunculan seseorang.

"... kalo ramenya biasanya malem, bang," ujar si penjual.

"Berarti abang dari pagi sampe malem jualan terus?"

"Ya enggak, lah. Ntar kalo agak sorean dikit ada yang gantiin."

Jalan ini lengang. Hanya ada beberapa sepeda motor yang lewat sesekali. Dengan sudut tempatku duduk, rumah yang aku incar dapat terlihat jelas olehku. Tidak ada pelanggan lain selain aku. Hari masih pagi, dan sepertinya tak banyak orang yang tertarik makan di tempat macam ini pada jam-jam ini.

Kulanjutkan obrolanku hingga akhirnya pintu gerbang rumah itu terbuka. Dari dalamnya keluar seorang gadis yang tengah menaiki sepeda motor. Jaket yang ia kenakan cukup tebal sehingga lekuk tubuhnya yang seksi tak terlihat. Aku yang pernah melihat gadis itu dari dekat dapat membayangkan keseksian yang tersembunyi dari balik jaket itu. Sayang sekali. Sebelum gadis itu menjauh, gerbang sudah kembali ditutup.

Ah, rasanya aku menjadi gila. Semenjak kejadian dengan Wina, aku jadi sering sekali berkeliaran di daerah ini. Setiap pulang sekolah, aku selalu mengarahkan sepeda motorku ke area ini sebelum akhirnya memutar arah untuk pulang. Aku ingin bertemu Wina lagi. Bodoh sekali rasanya karena saat aku pamit pulang pada hari itu, aku tidak meminta nomor teleponnya.

Hari ini hari Minggu. Aku memiliki waktu sepanjang hari untuk menunggu Wina keluar dari rumahnya. Meski nafsuku mati-matian ingin menggenjot tubuh kakaknya, tapi satu orang yang sudah jelas bisa aku kerjai adalah Wina. Jika dia keluar rumah sekali saja, aku sudah menyiapkan skenario untuk bisa kembali bercengkerama dengannya.

Sebenarnya aku tidak ingin senekat ini. Akan tetapi keadaan yang membuatnya demikian. Sudah dua pekan aku rutin jogging di alun-alun, tapi tidak pernah aku dapat berjumpa dengan gadis itu. Artinya, dia memang tidak rutin dalam berolahraga. Karena itulah aku harus mengambil langkah ini meski terbilang nekat dan belum tentu berhasil.

Dua jam aku menunggu tanpa ada hasil. Aku memutuskan untuk pergi dari angkringan itu karena jika terlalu lama, bisa saja aku dicurigai. Akhirnya aku berpindah ke tempat lain yang tak begitu jauh, tetapi tak begitu terlihat oleh si tukang angkringan. Aku memilih sebuah pos kamling yang ada di belokan. Syukurlah posisi lapak angkringan itu agak menjorok ke dalam halaman rumah yang ia tempati sehingga aku berada di titik mati.

Di sini pun, aku masih menunggu dengan suntuk. Tak ada yang bisa dilakukan selain membuka-buka ponsel. Saat matahari sudah berada di atas kepala, akhirnya gerbang rumah itu dibuka lagi. Jantungku berdegup kencang seperti mau mati. Kali ini yang keluar adalah seorang gadis tak kalah seksi dari yang sebelumnya, tapi dia adalah Wina!

Aku tidak langsung beraksi. Kutunggu gadis itu berjalan cukup jauh, sebelum akhirnya aku tancap gas ke arahnya dengan motorku.

"Loh, Wina?" Tanyaku sok polos.

"Loh, Raka? Kok sampe sini?" Tanya si gadis balik.

"Ooh, ada urusan tadi. Kamu mau kemana jalan kaki sendirian?" Tanyaku.

"Cuman ke minimarket situ sih," jawab Wina enteng.

"Mau kuanter sekalian?"

"Boleh."

Dia pun naik membonceng motorku. Saat posisinya sudah benar, teteknya terasa menempel di punggungku. Ketika gas mulai kutarik, goyangan benda itu semakin terasa karena jalan yang tidak rata.

"Tetek lo gede ya Win," ujarku iseng. Meski dibilang iseng, jantungku berdetak cukup kencang saat mengatakan itu karena aku tidak tahu apa respon yang akan dia berikan.

"Bhahahaha," Wina tertawa. Alih-alih menjawab, dia justru kemudian memelukku mesra. Teteknya yang tadi sekedar bergesekan, kini terasa ditekan erat ke punggungku. Mendapati hal ini, tentu saja kontolku ngaceng seketika. Kami tidak melanjutkan obrolan karena sudah sampai tujuan.

"Dah sampe nih," kataku.

"Iya tau," jawab Wina sambil turun dari motor.

Aku lebih memilih menunggu di luar sementara Wina berbelanja. Dari balik atap dapat kulihat awan mendung yang mulai berarak menutupi matahari. Tidak berapa lama, dia keluar lagi dari minimarket itu.

"Loh, kok masih di sini?" Tanya Wina.

"Hah? Eh.. Nggak pengen dianter balik?" Jawabku sekenanya. Aku baru sadar, jika pertemuanku dengannya adalah kebetulan, tentunya aku akan langsung pulang setelah mengantarnya mengingat jarak rumahnya dekat.

"Mmm.. Yaudah yuk," jawabnya menyetujui. Kami pun berkendara kembali menuju rumah Wina. Kali ini tanpa malu-malu, dia langsung memelukku erat, membuat susunya tertekan ke punggungku lagi. Aku tentu saja menikmati hal ini, meski otong sudah meronta karena ngaceng berat.

"Kamu abis ini ada acara?" tanya Wina dari belakang.

"Nggak, sih. Mau ngapain emang?" jawabku dengan penuh harap.

"Jalan-jalan yuk. Suntuk nih di rumah."

"Boleh tuh. Mau main ke mana?" Tanyaku sambil berusaha menyembunyikan kegembiraan,

"Mau ke gunung?" Tawar Wina.

"Yuk dah."

"Oke, gue ganti baju dulu, ya."

Wina pun turun dari motor dan masuk ke rumahnya sambil membawa belanjaan. Aku dengan nafsuku yang mulai memburu tak sabar menunggu Wina untuk segera kembali. Yah, meski masih belum tahu apakah nanti aku akan mendapatkan "kesenangan" atau tidak, tetapi nafsuku begitu membara bila melihat gadis itu.

"Yuk," ajak Wina begitu ia selesai dengan persiapannya.


Yang berdiri di hadapanku seperti gadis yang berbeda dari sebelumnya. Dengan make up menempel, wajahnya terlihat lebih nakal dari sebelumnya. Hal itu diperkuat dengan kaos U-neck ketat yang ia kenakan, membuat tubuh bahenolnya terlihat meronta ingin dibugili. Tanpa diminta, ia langsung memboncengku dengan tangan dilingkarkan ke pinggang dan dada ditempelkan ke punggungku.

"Mau ke mana?" Tanyaku.

"Naik, yuk." Ajak Wina.

"Oke."

Aku pun menarik gas motorku menuju tempat yang ia sebutkan. 'Naik' adalah istilah yang biasa digunakan untuk menyebut Gunung Palagan. Dinamai Palagan karena konon katanya, tempat itu pernah menjadi medan perang antara dua kerajaan besar. Dulu gunung itu terkenal angker. Tetapi sekarang lebih terkenal karena berbagai tempat wisata, terutama pemandian air panas yang banyak jumlahnya.

"Ini mau kemana nih?" Tanyaku lagi. Meski sudah jelas kami akan pergi ke gunung, tetapi tujuan wisata yang akan dituju masih belum jelas.

"Ke Kluwung mau?"

"Boleh, yuk."

Kluwung adalah nama air terjun besar yang ada di Gunung Palagan. Selain Kluwung ada beberapa air terjun lain, tetapi kecil dan tidak begitu menarik. Tempat wisata di Gunung Palagan memang beraneka ragam. Mulai dari pemandian air panas dan air terjun yang sudah kusebutkan, hingga garadu pandang dan pasar malam selalu ada. Belum lagi dengan hotel dan villa yang berjejer rapi di sepanjang jalan kalau sudah sampai di atas sana.

Tak sampai satu jam, kami sudah sampai di tempat tujuan. Biaya masuk cukup sepuluh ribu berdua. Wina yang sudah tak sabar langsung menarik tanganku untuk menaiki anak tangga yang berjumlah ratusan. Yah, karena ada di daerah pegunungan, rute yang harus ditempuh cukup menantang. Sehabis parkiran, kami harus melewati anak tangga dan medan terjal sebelum sampai di tempat yang ingin dituju.

Di hari Minggu, tempat ini penuh oleh pengunjung. Tapi itu tak menghalangi kami untuk tetap menikmati momen ini. Senyum dan tawa selalu menghiasi wajah kami yang saling bercanda di sepanjang jalan. Dimulai dari Wina yang menggoda dengan menyipratkan air sungai ke arahku, aku pun membalasnya. Tapi belum sempat aku membalas, dia sudah berlari di antara batu-batuan.

"Kyahahahah.. Masak ngejar cewek aja ga bisa?" Godanya ketika aku berhasil menyusulnya.

"Kan gue nggak ngejar." Jawabku enteng.

"Iiih.. Curang. Harusnya kalo ada yang lari dikejar dong."

"Kata siapa?"

"Kataku." Ucap Wina sambil menjulurkan lidah.

"Yeee..."

"Sini deh HP mu dimasukin ke tasku aja." Pinta Wina. Aku pun menurutinya karena bermain di air terjun memang rawan. Selain terkena percikan air yang ditimbulkan oleh jatuhan air, kecelakaan seperti terpeleset atau HP terjatuh juga riskan.

Kami kembali menyusuri sungai yang akan mengarah ke air terjun. Tidak butuh waktu lama untuk sampai. Akan tetapi, tempat yang dituju ternyata sangat sesak oleh manusia. Jauh lebih ramai dari perkiraan kami ketika berjalan menuju ke sini. Kami pun memilih sebuah tempat di salah satu sudut untuk duduk bercengkerama.


Dari sini, kami bisa melihat pelangi yang terbentuk dari butiran air yang melayang dan terbiaskan oleh cahaya matahari. Suasananya menenangkan, meskipun dengan banyaknya orang yang hadir. Kami ngobrol cukup lama sebelum memutuskan untuk pergi. Tak lupa foto-foto diambil untuk kenang-kenangan.

"Eh, eh, eh, Kyaaahhhh.."

BYURR..

Karena gagal menjaga keseimbangan Wina tercebut ke sungai. Karena refleks menggapai tangannya, aku pun ikut masuk ke dalam air. Untung bagiku,aku hanya tercebur sedalam lutut. Wina yang badannya basah sampai sedada langsung terlihat cemberut.

"Iiiiihhh.. Basah iniiii.." Rengek Wina.

"Ya gue juga basah. Kamu sih ga ati-ati."

"Ya kan aku cewek. Harusnya kamu lebih peka dong."

"Iya deh, iya. Yaudah, pulang aja yuk. Ga enak basah gini. Diliatin orang juga tuh." Tunjukku. Dan memang benar, beberapa orang menoleh saat kami tercebur. Sebagian besarnya melanjutkan aktivitas sementara yang lain terlihat berbisik-bisik sambil tertawa melihat kami.

Tanpa banyak berdebat, kami kembali menyusuri jalanan sungai berbatu. Jalan pulang terasa lebih cepat daripada saat berangkat. Wajah cemberut Wina tak kunjung hilang, bahkan setelah kami sampai di tempat parkir.

"Cari penginapan dulu aja yuk," Ajak Wina.

"Hah, Penginapan? Ngapain?" Tanyaku bingung.

"Ya ngeringin badan. Aku ga mau sampe rumah basah gini. Ntar pasti dimarahin."

Jantungku terasa panas membara. Pergi ke sebuah penginapan adalah hal yang umumnya dilakukan untuk melakukan hal-hal yang tidak senonoh. Tentu saja aku tidak akan menolak, tetapi jika aku mengiyakan langsung, akan terlihat kalau aku sangat bernafsu.

"Mmmm... Yaudah, deh. Tapi kamu yang bayar tempatnya, ya." Ujarku setelah berpura-pura berpikir.

"Terserah lah, yang penting kering duluan." Jawab Wina pelan.

Kami pun kembali naik ke atas motor. Sesuai kesepakatan, kami mencari hotel atau penginapan yang bisa disinggahi. Aku kurang berpengalaman dalam hal ini, tetapi sepertinya Wina tau tempat yang ingin dituju.

Sekitar sepuluh menit menyusuri jalan pegunungan, kami sampai di sebuah hotel kecil. Tempat itu terlihat sepi. Kami memilihnya karena di depan terpampang harga yang cukup murah, Tujuh puluh lima ribu rupiah semalam. Sejujurnya aku tidak benar-benar tahu jika harga itu murah atau mahal, toh, aku belum pernah singgah di hotel kecil seperti ini. Tetapi karena Wina yang memilih. aku menurut saja. Toh, dia yang membayar.

Wina memimpin jalan menuju resepsionis. Kami disambut oleh seorang bapak-bapak berusia lima puluh tahunan. Beliau menerima kami dengan ramah tanpa menanyakan apapun. Aku lega. Dua orang remaja berbeda jenis kelamin yang ingin menyewa penginapan tentunya bukan hal biasa. Bisa saja kami tidak diperbolehkan masuk, atau bahkan diusir karena dituduh akan melakukan tindakan asusila.

Setelah membayar biaya, kami mendapatkan kunci bernomor 16. Bapak-bapak itu memberikan arahan di mana kamar itu berada. Sesuai arahannya, kami menelusuri koridor berisi kamar-kamar sepi. Kamar kami berada di ujung koridor. Pintu kayu tua berbunyi cukup keras saat kami membukanya.

Lembab dan sepi. Begitulah kesan yang diberikan ketika memasuki kamar kami. Begitu masuk kamar, Wina langsung menuju kamar mandi. Aku langsung mencopot celana jeansku yang basah dan merebahkan diri di atas kasur. Untunglah aku selalu mengenakan kolor sehingga meski tak memakai celana, masih terlihat wajar.

Kamar ini meskipun murah memiliki AC dan TV. Ranjangnya pun besar. Cukup untuk dua atau tiga orang. Kalau dilihat dari bangunannya memang kurang meyakinkan. Desain interiornya terlihat seperti hotel murahan. Tapi fasilitasnya lumayan juga menurutku.

Kurang lebih lima menit Wina di dalam kamar mandi. Begitu keluar, dia hanya mengenakan handuk sebagai kemben sementara bajunya dipeluknya erat. Aku dapat melihat BH dan celana dalam di antara lipatan kain itu, yang artinya dia tidak mengenakan apa pun di balik handuk.

Jantungku kembali terasa panas. Detaknya semakin kencang dan cepat seperti genderang perang. Wina keluar kamar masih hanya dengan berbalut handuk. Tak lama, ia kembali masuk dan mengunci kamar. Diambilnya remot TV, kemudian dia merebahkan diri di sampingku.

"Acaranya ga ada yang bagus," celetuk Wina.

"Yaudah ga usah ditonton," jawabku enteng. Tanganku mulai bergerilya menyelip di balik handuk Wina. Putingnya yang dapat kutemukan dengan mudah kupelintir dan sesekali toketnya kuremas. Tanganku yang satu tentunya tidak tinggal diam. Jika tangan kiri memainkan puting, tangan kananku bermain di area bawah. Dimulai dengan meremas bokong, tanganku perlahan menemukan jalan menuju memek Wina. Memeknya terasa sangat basah. Jari tengahku masuk dengan mudah ke dalam lubang itu, membuat si empunya lubang mendesah nikmat.

"Mmmhhh.. Enak Raka. Terus.. Iya gitu," ceracau gadis itu.

Bibir kami beradu dalam dekapan nafsu. Wina yang agresif memimpin peraduan dengan memainkan lidahnya. Aku lebih memilih bermain pasif membiarkan lidahnya menyeruak masuk mencumbu mulutku. Lidah kami saling beradu mengumbar nafsu. Aku yang belum pernah berciuman sempat kewalahan menghadapi keliaran lidahnya, tetapi lama kelamaan aku bisa beradaptasi mengimbangi permainannya.

Cukup lama kami berciuman.  Sementara itu, Jari manisku sudah ikut masuk ke dalam memeknya, menemani jari tengah yang sedari tadi bergerilya. Handuk yang menempel di tubuhnya sudah tak karuan bentuknya. Puting yang telah mancung karena nafsu sesekali kupelintir dan kucubit, membuat ia mendesah di dalam mulutku.

Sambil masih memainkan memeknya, tanganku yang satu mulai menelajahi tubuhnya. Kuelus lembut kulit Wina yang putih. Saat sampai di bokongnya, tanganku merasa tidak mungkin untuk tidak meremasnya. Dia mendesah panjang saat pantat itu kuremas keras.

"Emwak shayng. Remws terus.. Mmmhh..." racauannya yang terhalang bibirku membuat kata-katanya tidak sempurna.

Tak mau tinggal diam, Wina bangkit dan mulai melucuti celanaku. Kunaikkan sedikit pinggangku demi mempermudah pekerjaannya. Ia kemudian duduk di atas wahaku. Tak lama kemudian, aku merasakan sebuah sapuan benda hangat yang lembut dan basah. Rasa nikmat menjalar ke seluruh tubuhku saat benda itu menyapu kontolku.

"Aufffmmm.."

Mulut Wina terganjal kontolku saat ia ingin mendesah. Secara refleks, kuhentakkan kontolku sehingga membuat ia tersedak. Tetapi aku tidak berhenti. Kulanjutkan sodokanku berulang kali hingga akhirnya dia bangkit.

"Raka!" bentak Wina. Aku hanya tersenyum iseng sambil menengok wajahnya yang cemberut dari balik pantatnya yang menindihku. "Kalo kamu nakal aku ga mau lanjut, lho."

"Iya deh iya maaf," jawabku sambil masih nyengir-nyengir iseng.

Dia berdiri, kemudian duduk di atas kontolku yang sudah ngaceng berat. Cairan cinta dan ludah yang bercampur di memeknya membuat kontolku jadi ikut basah. Dia mulai bergoyang maju mundur menggesek-gesekkan memeknya ke kontolku, mendesah, sambil memeluk tubuhku.

"Enak banget sayang," gumamku menikmati goyangannya yang merangsang kontolku sehingga lebih ngaceng lagi. Yah, meski enak, tapi sekedar digesek-gesek seperti ini rasanya seperti ada yang kurang. Akan tetapi justru perasaan untuk menginginkan lebih itulah yang membuat otakku berfantasi lebih dan syaraf-syaraf kenikmatanku terangsang begitu hebat.

Kupeluk tubuh gadis itu. Bibir kami kembali berpagut. Sesekali kujelajahi kembali tubuh Wina dengan tanganku. Meremas teteknya, membelai punggungnya, menampar pantatnya, sambil ciuman kami semakin mengganas dengan permainan gigitan yang ringan.

"Masukin sayang," pintaku.

"Iiiihh.. Takuuut," jawabnya dengan nada manja.

"Takut kenapa?" tanyaku. Aku pun menduga-duga jika gadis ini masih perawan dan ini adalah pengalaman pertama baginya sehingga jantungku mulai berdetak kencang.

"Kontol kamu gede banget. Gak muat kayaknya."

"Ah, masak, sih? Emang kamu pernah dimasukin yang seberapa?"

"Yang lebih kecil dari kamu."

Dari jawabannya aku pun mengerti bahwa ia memang sudah tidak perawan. Ada rasa kecewa mengingat aku masih perjaka tulen; jika coli dengan tangan sendiri tidak dianggap menghilangkan keperjakaan. Bagiku yang masih perjaka, tentunya hasratku besar untuk bercinta pertama kali dengan seorang perawan. Tetapi yang dihadapanku bukanlah perawan. Bahkan, jika melihat dari kegenitannya, tidak mustahil jika ternyata aku adalah pria keempat, kelima, atau kesekian yang penah ia tiduri.

Aku pun bangkit berdiri, mendorongnya ke samping hingga ia terebah ke kasur. Kulepas seluruh pakaianku hingga tak sehelai benang pun menempel. Kontolku yang sudah ngaceng berat berdiri gagah mengancam seorang wanita yang berbaring di bawahnya. Sudah terlanjur telanjang, akan sayang sekali jika tidak kueksekusi. Kukesampingkan kekecewaanku demi menghindari penyesalan yang mungkin datang di lain hari. Aku duduk berlutut di hadapan gadis itu. Kukangkangkan kakinya, kemudian kuarahkan kontolku ke dalam memeknya.

"Pelan-pelan!" pintanya dengan nada panik.

Aku pun menurutinya. kutoel-toel memeknya dengan kontolku sebelum berusaha masuk. Perlahan, kudorong sedikit demi sedikit supaya ia tidak kesakitan. Dengan sedikit gerakan maju mundur, perlahan tapi pasti, kontolku mulai menyeruak masuk ke dalam lubang kehangatan. Cairan cinta yang sudah melumuri seluruh selangkangannya mempermudah penetrasi yang aku lakukan.

"Ahhhh.. Iya sayang.. Gitu.. Enakkkhh.." Ceracau Wina. Aku berusaha mempertahankan tempo genjotanku demi membuat ia merasa nyaman. Begitu kontolku sudah masuk semua, kuhentakkan kontolku sedalam-dalamnya ke dalam memek itu.

"Auuukkkhhh..." Desah Wina.

"Sakit?" Tanyaku.

"Tahan bentar sayang," pinta Wina. Aku menurutinya. Sebagai gantinya, kami kembali berciuman. Kali ini bibirku turun ke leher, ke telinga, hingga akhirnya mendarat ke putingnya. Wina hanya bisa mendesah dan memejamkan mata menikmati permainan yang kutawarkan.

Perlahan, sambil tetap mempermainkan lidahku, aku mulai menggenjot memeknya. Hangat dan basah. Ternyata seperti itulah rasanya berada di dalam memek. Ditambah dengan jepitan dari dinding vagina, kenikmatan yang mampu diberikan oleh lubang itu terasa ajaib.

"Aaaakkkhhh... Gilaaakkk... Auuhhh.. Ennaakk.. " Ceracau Wina.

Sambil terus menggenjot, kulancarkan terus aksi menggerayangi tubuhnya. Kedua tanganku kugunakan untuk memelintir puting sedangkan mulutku bergerilya menjilat dan menghisap daerah leher ke atas. Tak butuh waktu lama untuk melihat wajah Wina basah kuyup oleh liurku.

"Enaakk.. Ahh.. Akk.. Akkuu.. Aakkk.. Hhh... Kyahh.."

Seketika tubuh Wina menegang. Memeknya mengejang dan dapat kurasakan lubang yang semakin basah dari genjotanku yang semakin lancar. Matanya terpejam erat menikmati setiap rangsangan yang diberikan kontolku.

Dengan cairan cinta yang membanjir, genjotanku terasa lebih lancar, tapi menurutku menjadi kurang enak karena lubangnya menjadi terlalu licin. Demi kembali meraih kenikmatan, kugenjot lagi memek itu dengan kecepatan yang ditingkatkan. Semakin lama, genjotan semakin cepat, semakin cepat, dan semakin cepat lagi.

Plokplokplokplokplok..

Suara paha yang bertemu dengan bokong memenuhi ruangan.

"Ah.. Ah ahhh.. Akkhh... Ahh Ahhh.." Diperlakukan begitu, Wina hanya bisa pasrah dan mendesah.

Crrooott... Crooott... Croott.. Crrrooottt....

Pejuh putih kental mendarat rata di tubuh Wina. Mulai dari perut, tetek, hingga wajah terkena muncratan sperma yang aku keluarkan. Kontolku memang aku tarik tepat sebelum dia muncrat demi menghindari hal yang tidak diinginkan. Agak sayang, memang. Tetapi aku tidak menyesal melihat gadis montok yang ada di hadapanku ini menjadi terlihat makin seksi karena keringat dan lelehan sperma yang menempel di seluruh tubuhnya.

"Waduh, muncratnya banyak banget!" ujar Wina sambil tertawa. Aku hanya tersenyum. Ingin aku menciumnya, tetapi lelehan pejuh yang banyak menempel di wajahnya membuatku mengurungkan niatku. Alih-alih, aku rebahkan tubuhku di sampingnya sambil meratakan lelehan sperma di payudaranya. Wina menoleh dan tersenyum.

"Kamu hebat," bisiknya kepadaku.


Comments

Bugil Populer