[Raka P5] Kenakalan di Rumah Wina
"Berisiiik!" Teriakku kepada kak Naya. Aku sudah tak tahan lagi. Sejak pagi, dia sudah memutar lagu keras-keras dan bernyanyi menggunakan microphone yang tentunya tak kalah kencang. Meski berbeda ruangan, suara sekencang itu tetap sangatlah mengganggu.
Karena menutup telinga dengan bantal tidak mempan, kuputuskan untuk melawan rasa kantukku dan melabrak orangnya langsung. Si biang keributan tampak asyik berjoget dengan musik yang melatarinya. Jika orang lain yang melihat, aku yakin mereka akan langsung terangsang meliha gerakan tubuh kakakku ini. Bahkan aku pun juga begitu..

Karena menutup telinga dengan bantal tidak mempan, kuputuskan untuk melawan rasa kantukku dan melabrak orangnya langsung. Si biang keributan tampak asyik berjoget dengan musik yang melatarinya. Jika orang lain yang melihat, aku yakin mereka akan langsung terangsang meliha gerakan tubuh kakakku ini. Bahkan aku pun juga begitu..

Dengan kaos putih lengan panjang yang membuat BH merahnya menerawang, kak Naya melenggak lenggokkan badannya. Celana jeans pendek yang ia kenakan, serta pusar yang tak tertutup membuat gerakan pinggulnya begitu sensual. Ekspresi wajahnya yang nakal menggoda sama sekali tidak membantuku meredam rasa ini.
Plak!!
Tanganku mendarat dengan nikmat di bokong yang empuk itu.
"Pagi-pagi malah joget-joget!" bentakku. Tentu saja bentakan ini hanya alibi untuk melampiaskan kegemasanku. Alih-alih marah, kak Naya justru menyodorkan bokongnya lebih jauh kepadaku, mengejekku dengan menggoyang-goyangnya di hadapanku.
Ahhh.. Semenjak kejadian di pagi hari itu, aku jadi melihat saudara-saudara perempuanku dengan sudut pandang yang berbeda. Maksudku, lihatlah saudara-saudaraku. Meski kuliatnya tidak putih, tapi tubuh dan wajah yang seperti itu tentu tidak akan pernah ditolak oleh lelaki. Bahkan ayahku...
Ya, ayahku. Tidak berapa lama semenjak hari itu, hari di mana aku tahu bahwa ternyata ayahku rela menyetubuhi putrinya sendiri. Yang ia setubuhi saat itu adalah kak Eka, kakak pertamaku.
Jika dibanding kak Naya, kak Eka adalah gadis yang lebih dewasa. Wajahnya tampak anggun dan kalem dengan sikap yang keibuan untuk adik-adiknya. Siapa sangka jika ternyata di balik itu semua, ia adalah wanita binal yang rela disiram rahimnya dengan pejuh ayahnya sendiri.
Juniorku berdiri. Kuurungkan niatku untuk memarahi kakakku. Daripada marah-marah. lebih baik aku menyiapkan diri untuk berangkat sekolah.
Sekolah berlangsung seperti biasa. Beberapa teman yang berlangganan contekan langsung mengerumuniku begitu aku masuk kelas. Seperti biasa pula, kuberikan buku PR ku kepada mereka. Di bangkuku tampak Riris sudah duduk manis mengerjakan PR yang tentunya tidak ia kerjakan di rumah.
"Minggir." Perintahku.
"Ogah. Gue pengen duduk di sini." Jawab gadis itu dengan nada menggoda.
"Yaudah." Sahutku cuek, kemudian aku duduk di pangkuannya.
"Iiiihh... Berat ih." Protes Riris.
"Lebih berat mana sama elo?" Tanyaku balas menggoda.
"Ya berat elo, lah. Berdiri." Perintah si gadis.
Aku bangkit, kemudian duduk di sebelahnya. Si gadis melanjutkan pekerjaannya.
Hari ini tidak ada hal yang spesial. Pelajaran berjalan seperti biasa. Aku dan teman-teman pun bergaul seperti biasanya. Sepulang sekolah nanti pun, aku ada jadwal rapat OSIS sebagaimana biasanya. Tidak ada yang spesial sampai sebuah pesan singkat dari seorang gadis datang.
Plg skulah maen k rmh q yaaa...
Ruang rapat terlihat ramai dengan siswa ketika aku memasukinya. Tentu saja, karena jumlah keseluruhan anggota OSIS adalah 32 siswa, sama seperti jumlah rata-rata siswa dalam satu kelas. Meski sangat jarang seluruh anggota OSIS untuk berkumpul semua, tetapi dua puluh-sekian siswa yang ada cukup untuk membuat kelas jauh dari kata tenang.
Kususuri koridor yang terbentuk dari meja dan kursi hingga di bangku paling belakang. Di sana sudah ada Dini, gadis imut dari IPA 3 yang pernah kuceritakan. Seperti biasa, dia memberikan senyum yang manis kepadaku. Dengan sediki isyarat, aku meminta izin untuk duduk di sampingnya.
Rapat kali ini membahas tentang perkembangan acara ulang tahun sekolah. Aku dan Dini serta dua orang dari kelas tiga ditugasi menjadi bagian kesenian dan dokumentasi. Persiapan yang kami lakukan sudah cukup matang. Mulai dari desain proposal untuk sponsorship hingga desain panggung acara puncak sudah kami persiapkan dengan baik. Masih ada beberapa hal yang belum dikerjakan karena menunggu kesiapan dari sie lain, tetapi secara keseluruhan, kami tinggal duduk tenang menanti koordinasi.
Yang paling berat mungkin adalah sie acara. Dengan empat acara berbeda, mereka memiliki personel paling banyak dan tugas yang paling banyak pula. Meski acara-acara kecil di awal memiliki konsep sederhana, tetapi tentu saja persiapan harus sangatlah matang demi lancarnya acara. Syukurlah aku tidak mendapatkan sie ini. Jika dapat, waktu luangku akan sangat terbatas dan aku akan kesulitan menyamakan jadwal dengan Wina.
Ahh.. Wina. Gadis yang telah meninggalkan pesan singkat yang membuat hariku terasa berwarna. Semenjak kejadian di Hotel itu, kami jadi makin akrab. Sudah beberapa kali kami bertemu untuk sekedar melepas kangennya si Junior. Menyewa hotel dan bergumul manja tanpa busana sudah menjadi rutinitas kami beberapa waktu ini.
Dalam sekali bertemu, kami bisa main dua-tiga ronde. Wina tampak sangat senang dengan staminaku. Dia sendiri curhat bahwa aku adalah pria keempat yang menikmati memeknya. Di antara keempat pria itu, stamina dan kontolku adalah yang paling besar sehingga dia selalu puas jika bermain denganku. Pria-pria yang lain maksimal hanya bisa bermain dua ronde. Itu pun tidak sampai setengah jam. Mendengar itu, tentu saja rasa percaya diriku bertambah.
"Baik, demikian rapat pada siang hari ini. Target minggu depan harus sudah terlaksana semua. Sekian dari saya, terima kasih." Ucap kak Alda menutup rapat hari ini.
Kubuka ponsel dan kutemukan pesan dari Wina. Aku pun langsung tancap gas menelusuri jalanan yang sudah kukenal menuju lingkungan yang kukenal. Tepat di depan rumah yang baru pernah kumasuki sekali tetapi meninggalkan sebuah memori ini aku berhenti. Kulihat lingkungan sekitar. Sepi. Perlahan, kubuka gerbang yang tak terkunci dan kumasukkan motorku di dalam rumah itu. Di pintu terlihat sosok gadis semok berkulit putih dengan pakaian ketat yang sudah menjadi ciri khasnya.
"Kunci gerbangnya," perintahnya. Aku yang berada di posisi tamu menuruti saja apa yang diperintahkan tuan rumah. "Ayo sini."
Tanganku ditarik kuat oleh Wina. Aku hanya menurut dan mengekor di belakangnya memasuki rumah. Kami melewati ruang tamu yang pernah aku datangi sebelumnya dan langsung masuk ke ruang keluarga. Ruangan itu cenderung kosong dengan hanya almari berisi televisi dan karpet sebagai perabotnya. Di dinding, foto-foto keluarga berjejeran. Tetapi selain itu tidak ada barang lagi sehingga ruangan seluas 4x6 meter itu terasa lapang.
Wina duduk berlutut di hadapanku, kemudian dia mulai melucuti ikat pinggang yang aku kenakan. Tak berhenti di situ. Celana abu-abu yang masih aku kenakan pun dipelorotkan dan celana dalamku juga tak luput menjadi korban keganasannya.
Kontol yang belum ngaceng sempurna langsung dilahap dengan ganas oleh Wina. Tidak semua bisa masuk ke dalam mulutnya, tetapi gerakan kepala dan lidah yang cekatan membuat gairahku bangkit dengan cepat. Kugerakkan pinggulku maju-mundur mengikuti irama gerakan kepala gadis itu.
Kombinasi antara kuluman dan jilatan yang cekatan sungguh terasa nikmat. Aku belum pernah ngecrot karena kuluman mulut Wina, tetapi blowjob adalah posisi favoritku. Dari posisi ini, aku dapat melihat gadis bertubuh montok berlutut dan berusaha memberikan servis terbaiknya untukku. Perasaan mendominasi yang timbul dari hal itu membuat rasa percaya diriku sebagai pria melambung tinggi. Selain itu, menurutku blowjob adalah sarana yang tepat untuk pemanasan sebelum pertempuran dimulai.
"Capek," ucap Wina manja. Meski mulutnya sudah tidak memberikan servisnya, tangannya masih cekatan mengocok kontol yang basah oleh ludahnya sendiri.
"Ya udah buka baju," perintahku.
Wina membuka seluruh pakaian yang hanya terdiri dari baju dan celana saja. Dirangkulnya pundakku, kemudian kami berciuman mesra. Tanganku merangkul pinggang dan meremas-remas pantatnya. Lidah dan bibir kami berpagut liar membuat sekitar mulut kami basah. Jariku meraih memeknya dari belakang yang sudah basah kuyup menandakan siap untuk dikontoli. Kugesek-gesek memeknya sambil sesekali kumasukkan jariku ke dalam.
"Masukin," pinta Wina. Kumasukkan jariku dalam-dalam. "Bukan itu. Kontolnya."
"Nungging." Perintahku.
"Nungging." Perintahku.
Si gadis langsung menurut dan bersujud membelakangiku. Memek yang basah tapak merekah meminta kontol untuk menistakannya. Kuarahkan kontolku ke lubang itu dan dengan sekali dorong, seluruh batang daging yang keras itu masuk ke dalam tubuh Wina.
"Kyaaahh!" Pekik Wina saat kontolku menyeruak masuk ke dalam. Kugerakkan pinggangku keluar-masuk memeknya. Karena sudah basah, maka gerakanku bisa sangat lancar.
Plak!
Suara pantat yang dihantam menggema. Alih-alih protes, pantat Wina justru bergoyang mengikuti irama tusukanku. Awalnya goyangan itu lembut dan berirama. Lama kelamaan, goyangan itu berubah menjadi hantaman kasar ke kemaluanku.
Semakin waktu berlalu, sodokan yang aku berikan pada Wina pun tak kalah kasar. Cairan kewanitaan yang melumasi memek Wina pun sudah berubah menjadi putih mencerminkan keganasan permainan kami. Tak berapa lama, tubuh Wina mulai mengejang dan goyangannya berhenti. Tetapi itu tidak membuatku berhenti menyodok memek tembemnya.
"Kyaaahhhh!!"
Wina memekik kencang saat tubuhnya terlontar ke depan. Cairan bening mengalir deras dari memeknya yang menganga akibat aku gagahi. Baru pertama kali aku melihat Wina seperti ini. Tetapi bukan rasa khawatir yang muncul dalam benakku, melainkan sebuah kebanggaan. Bertahun-tahun mengkonsumsi pornografi membuatku paham bahwa Wina sedang orgasme hebat hingga memeknya squirting. Dan tentu saja aku paham bahwa tidak semua pria bisa membuat wanita orgasme sampai muncrat begitu.
Kukangkangkan kakinya, kemudian kontolku kembali masuk ke dalam memek itu. Kali ini kami menggunakan posisi missionary. Tidak seperti sebelumnya, Wina hanya pasrah dan mendesah saja. Matanya terpejam menghayati gerakan kontol yang mongobok-obok memek yang pernah digagahi tiga pria selain diriku.
Memek yang basah kuyup membuat kontolku keluar masuk dengan mudah. Tubuh Wina yang lemas membuatku bisa melakukan apapun sesuka hatiku. Kupercepat gerakan kontolku hingga pada kecepatan maksimal, kemudian berhenti ketika sperma terasa ingin keluar. Kuulangi pola itu beberapa kali, hingga sperma yang ingin keluar tak bisa tertahan lagi. Dengan satu gerakan cepat, kuarahkan kontolku ke muka Wina dan..
Crrottt... Crootttt... Crrrotttt... Crrooooottttt...
Kumuncratkan seluruh pejuhku ke wajah Wina yang sedang terlelap. Sebagian tercecer di lantai, tetapi sebagian besar mendarat dengan manis ke wajah gadis itu. Ada beberapa cipratan yang menempel di rambutnya. Ada pula yang mendarat di leher.
Ku ambil ponsel, kemudian kuambil gambar cantik Wina yang tak mengenakan busana dengan hiasan pejuh di wajahnya. Kupotret setiap inci tubuhnya hingga merasa puas. Pemandangan indah ini membuat gairahku bangkit kembali, ditandai dengan kontol yang menjulang tinggi.
"Win.." Panggilku sambil menepuk bahunya. Wina membuka mata menatapku dengan tatapan malas.
"Kamu ngecrot di muka, ya.." Tuduh Wina. Pejuh yang mendarat di sekitar bibirnya meleleh masuk ke dalam mulutnya ketika ia berbicara.
"Ehehehe.. Biar makin cantik sayang," Jawabku sambil memasukkan kembali kontolku ke dalam memeknya.
"Aaahh... Is.. ti... rahat.. dull.. luuuu.." Ucap Wina terbata-bata karena sodokan yang aku lancarkan.
Aku tidak peduli. Kusodok-sodok memeknya sesuka hati. Si pemilik memek hanya bisa mendesah pasrah dengan pejuh yang masih berleleran di wajahnya. Dengan sodokan konstan selama sekitar sepuluh menit, Wina kembali mengejang. Kali ini kudekap tubuhnya erat-erat supaya kontolku tidak lepas lagi dari memeknya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkhhhhhhhhhhhhhhhh......"
Wina melenguh kencang sementara cairan cinta kembali bermuncratan dari dalam memeknya. Kali ini, karena terganjal kontol, air cinta itu muncrat hanya ketika kontolku kutarik, membuat pola yang terlihat indah.
Wina mengatupkan kedua tangan ke mulutnya sendiri berharap suara erangannya bisa tertahan. Bola matanya berputar ke atas hingga hanya bagian putihnya saja yang terlihat. Sodokan yang tak henti kulancarkan membuat tubuhnya tak henti mengejang. Makin lama, pinggangnya semakin terangkat ke atas dan pada momen berikutnya langsung terhempas kembali ke lantai. Kontolku terlepas lagi dari memeknya.
Kutancapkan kembali kontolku kemudian kugenjot lagi memeknya untuk kesekian kali. Sudah tidak ada pergerakan dari tubuh montok Wina selain hembus napasnya yang terganggu sodokan dari kontolku. Kupercepat sodokan yang kulancarkan hingga kecepatan maksimal.
Crrooooottttt.... Crrottt... Crootttt... Crrrotttt... ..Croott.
Pejuh hangat kembali mendarat di tubuh Wina, kali ini di perut dan dadanya. Orgasme kedua membuatku lemas dan sangat puas. Aku beranjak ke belakang untuk mencari kamar mandi.
Usai membersihkan diri, aku mengenakan kembali seragamku dan tak lupa memotret kemolekan tubuh Wina yang basah kuyup oleh pejuh.
Seluruh tubuhnya benar-benar basah akibat perbuatanku. Wajah, perut dan dadanya basah oleh pejuhku sementara pahanya basah oleh cairan cintanya sendiri. Karpet tempat kami bercinta juga tak kalah basah, meninggalkan bekas basahan yang lebar. Cairan yang ada di sekitar memek Wina tidak bening, tetapi berwarna putih seperti buih akibat ganasnya permainan kami.
Krriiiieeeeeeetttttttttt....
Suara gerbang depan yang dibuka membuatku terkesiap hingga jantungku hampir meledak. Segera kukemas barang-barangku dan dengan setengah berlari, aku meninggalkan rumah ini.
"Eh, ada tamu."
Sebuah kalimat yang familiar bersamaan dengan sosok yang amat sangat familiar menyapaku di depan pintu. Tanktopnya yang berwarna putih tak mampu menyembunyikan bra pink muda yang ia kenakan. Jika bra saja tak mampu disembunyikan, tentu saja lekuk tubuh seksi si pemakai tidak dapat ia sembunyikan pula. Tanktop bodoh memang, melekat erat di kulit membuat si pemakai seakan telanjang.
"Eh, kakak. Eh, anu.. Mau pulang." Jawabku terbata-bata. Otakku sudah benar-benar tidak bisa berpikir.
"Loh, buru-buru?"
"Iya. Hehehe.."
Aku langsung melenggang melewatinya. Saat berpapasan, tanpa sengaja sikuku menyenggol dua buah benda empuk yang menggantung di dada si wanita.
"Eh.. Anu.. Teteknya gede."
"Hah?"
"Eh.. Nggak!"
Aku langsung melompat ke motorku yang diparkir di halaman. Dengan tergesa-gesa, kutuntun kendaraan itu keluar halaman dan tanpa basa-basi kutancap gas sekencang-kencangnya, berusaha meninggalkan rasa malu.




Comments
Post a Comment