[Raka P6] Hari Minggu yang Biasa

 "Aaahhh... Aaahhhh... Mmmhhh... Ahhhhhhnn"

Sosok dua insan yang memadu kasih dapat terlihat dari balik jendela. Kontol si pria yang begitu besar tak henti-henti menyodok kemaluan wanita. Si wanita yang disodok dari belakang berusaha mengimbangi permainan dengan menggoyangkan pinggul serta memainkan payudaranya sendiri. Aku yang hanya bisa berdiri menatap permainan itu mengocok kontol dari balik jendela membayangkan jika aku dan si pria berganti posisi.

"Ayahh.. Ahhhh... Hhhnnnn... Akhuhh keluarr..."

Tak lama, si wanita yang tak lain adalah kakakku sendiri mengejang dan mengeluarkan desahan yang mencerminkan kepuasan yang didapatkannya. Sang pria yang tak lain adalah ayahku sendiri berhenti sejenak membiarkan putrinya menikmati orgasmenya sebelum melanjutkan sodokannya.

Yah, semenjak kejadian yang hampir membuat jantungku copot itu, entah kenapa cara pandangku terhadap keluargaku berubah. Kakak dan ayah yang selama ini kuhormati ternyata melakukan tindakan tak bermoral di belakang kami. Ingin rasanya kudobrak jendela yang memisahkan kami dan melabrak mereka berdua.

Crroooooootttttt... Crrrooottt.. Crrott.. Crrooott...

Tentu saja keinginan itu kuurungkan karena ada hal yang lebih menarik dan nikmat untuk dilakukan. Ketika cairan itu muncrat dari lubang kemaluan, rasanya tubuh ini seperti melayang. Pejuhku yang putih dan hangat bermuncratan di dedaunan dan rerumputan yang kebetulan berada di hadapan kontolku. Lega rasanya melepaskan belenggu nafsu yang selama ini memenjarakan.

Bintang mulai menghilang dan fajar mulai menampakkan cahayanya. Kedua insan itu masih saja mendesah nikmat menikmati percumbuan haram mereka. Dengan langkah yang pelan dan penuh kehati-hatian, kutinggalkan mereka untuk kembali ke kamarku sendiri.

Hari ini hari Minggu. Tidak seperti Minggu yang lain, hari ini dan untuk dua bulan ke depan aku ada latihan Marching Band setiap akhir pekan. Ya, selain OSIS, aku juga ikut ekstrakurikuler lain seperti Pramuka dan Marching Band. Selain itu, aku juga ikut kelas Badminton yang diadakan oleh klub Badminton di kotaku.



Kak Naya sudah berada di ruang makan menikmati sarapan ketika aku selesai mandi. Seperti biasa, dia tampak cantik dan mempesona. Ingin rasanya kupeluk dirinya dan kucumbu sepuas hasratku. Tapi tentu saja hal itu tidak aku lakukan. Alih-alih, aku ikut mengambil makanan dan duduk di depannya.

"Heh, udah ngambil sarapan, emangnya udah mandi?" Tanya kak Naya setengah membentak.

"Ya kan ga ada aturan harus mandi sebelum sarapan," kilahku.

"Ada. Sana gih mandi dulu."

"Makan dulu, ah," bantahku.

"Terserah! Ntar kalo dimarahin kak Eka biar tau rasa!"

Aku hanya manggut-manggut. Kak Eka sendiri belum menampakkan batang hidungnya. Bukan hal yang biasa terjadi jika kak Eka bangun kesiangan. Berbeda dengan Erlin, adik bungsuku yang selalu bangun di atas jam sembilan, kak Eka sangat jarang bangun di atas jam enam. Mungkin ia lelah setelah semalam melakukan hal itu.

Usai mandi, aku bergegas tancap gas ke sekolah. Gedung sekolah nampak sepi dibandingkan biasanya. Memang begitulah seharusnya, mengingat hari ini hari Minggu. Meski demikian, tanda-tanda kehidupan masih nampak hangat. Suara lengkingan perintah dan geprakan sepatu anak paskibra masih lantang terdengar.

Sebagai sekolah swasta favorit, sudah menjadi keniscayaan bahwa kegiatan ekstrakurikuler menjadi nafas kami. Berbagai kegiatan yang selalu diadakan baik itu di hari sekolah maupun hari libur membuat sekolah selalu tampak hidup. Di hari biasa, lampu ruang organisasi dan ekstrakurikuler yang masih hidup menjelang malam sudah menjadi hal biasa. Di masa-masa tertentu sepanjang tahun, bahkan sering ada kegiatan di mana sekolah menjadi tempat menginap siswa-siswanya.

Kuparkirkan sepeda motor di tempat biasa, kemudian langsung melenggang menuju kantin, tempat kami semua berjanji untuk berkumpul. Sepi. Hanya ada satu orang.



"Akhirnya ada temennya," celetuknya. Ia adalah seorang gadis bernama Leonita Saraswati, tetapi teman-temannya biasa memanggilnya Yoni. Dalam kegiatan Marching Band, Yoni bertugas menjadi sang mayoret, sebuah tugas yang sangat cocok bagi dirinya. Tentu saja, selain paras cantik, tubuh Yoni juga merupakan cobaan bagi siapapun yang menatapnya. Biasanya ia berjilbab. Entah kenapa, jika sedang tidak mengenakan seragam, ia lebih suka melepas jilbabnya.

"Yang lain belum dateng?" Tanyaku.

"Belooom. Si Tatan sama Maya juga dichat ga bales."

Sebagai orang Indonesia, molor adalah hal yang terasa biasa. Kami janjian untuk bertemu pukul tujuh pagi. Ini sudah jam setengah delapan, tetapi baru dua orang yang datang. Sebuah kebiasaan yang sudah mengakar, meski buruk, memang susah untuk dihilangkan.

Aku dan Yoni mengobrol untuk mengisi waktu sambil menunggu. Sesuatu yang sama sekali tidak membuatku keberatan, bercengkrama dengan gadis seperti dirinya. Asal kalian tahu, dia adalah salah satu primadona dari angkatanku. Sebagai seorang mayoret, paras cantik adalah sebuah keniscayaan. Tubuhnya juga harus menggoda iman jika ingin mendapat nilai lebih. Dan terakhir, tentu saja, statusnya sebagai seorang mayoret membuat cowok-cowok di sekolah menginginkan dirinya.

Sementara kami bercengkerama, satu per satu rekan kami hadir. Tetapi latihan tidak dimulai sebelum pukul 09.00, dua jam lebih lambat dari waktu yang seharusnya. Matahari sudah cukup tinggi ketika kami mulai bergerak, membuat keringat mudah sekali keluar. Apalagi bagi mereka yang memegang instrumen besar.

Dari jauh dapat kulihat Yoni tengah meliuk-liuk memainkan tongkat mayoretnya. Di sampingnya ada pak Jaka, guru olahraga yang kentara mencuri-curi kesempatan menyentuhi gadis itu. Terus terang aku merasa jijik melihatnya. Guru itu memang terkenal genit di antara cewek-cewek cantik. Beberapa memang ada yang membalas dengan senang. Bisa dimaklumi karena meski sudah kepala empat, tapi dia masih tampak gagah dan kekar. Akan tetapi banyak pula yang merasa terganggu dengan ulahnya. Apalagi para cowok yang gebetannya dinakali.

Si mayoret tetap fokus bergerak gemulai mengikuti ketukan pelatih sambil melempar-lemparkan tongkat ke udara dan menangkapnya kembali untuk diputar dan dimain-mainkan. Keringat perlahan membasahi baju berbahan cotton itu, membuat para lelaki tidak bisa fokus dengan apa yang dikerjakannya. Keseksian dan kecantikannya memang sudah tersohor seantero sekolah. Tak heran jika para pria menyempatkan curi-curi pandang kepadanya.

“Fokus!” bentak pelatih di kelompok perkusi ketika ada salah seorang murid yang salah ketukan. Aku pun kembali berfokus pada alat musik yang aku mainkan mengikuti aba-aba dari pelatih. Memainkan terompet tidak semudah kelihatannya. Ada teknik dalam meniup yang harus dibiasakan. Bahkan, pertama kali diperkenalkan dengan terompet, aku kaget jika harus ditiup sedemikian rupa.

Latihan selesai pukul sebelas. Kuperiksa ponselku, belum terlihat ada balasan dari Wina. Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, aku jadi kepikiran dengan berbagai hal yang mungkin terjadi. Saat itu aku dan Wina menikmati seks yang sangat liar sampai Wina tak sadarkan diri. Tetapi karena kakaknya yang pulang secara tiba-tiba, aku langsung melarikan diri dan meninggalkan Wina yang telanjang dan pingsan di ruang tamu.

Aku sadar bahwa apa yang aku lakukan adalah tindakan bodoh dan pengecut. Karena itulah aku merasa kawatir dan berusaha mengontak Wina. Akan tetapi sampai berhari-hari tidak ada balasan darinya. Bikin orang makin kawatir saja.

"Ikut nongkrong ga, lu?" Tanya Firman, ketua kelas yang juga mengikuti ekskul marching band.

"Kemana?" Tanyaku balik.

"Warkop biasa." Timpal Deni, anak IPA 2.

"Yok, lah."

Usai beres-beres, kami pun segera berangkat. Dari puluhan orang yang turut berlatih, hanya lima orang saja yang turut nongkrong bersama. Yang lain entah pulang ke rumah masing-masing atau memiliki agenda lain.

"Cuk! Jaka jancuk menang banyak tadi!" Ucap Deni memulai pembicaraan dengan membara.

“Napa emang?” tanya Firman si ketua kelas.

“Beh! Pake nanya.” Timpalku.

"Lu kagak pernah liat Yoni, apa?" Tanya Deni pada Firman.

“Itu bro, itu,” timpal Gio yang sekelas dengan Yoni sambil memeragakan bentuk bodi gitar. "Si Jaka jancuk pasti ngaceng berat tadi."

"Elu sekelas sama dia, kan?" Sahut Firman.

"Iya, makanya gue jadiin bacol tiap hari!" Jawab Gio dengan nada gemas.

"Bayangin aja, lo tiap hari disuguhin body kek gitu." Jajang yang juga sekelas dengan Gio turut bicara. "Mana kalo pake baju olahraga, begh!"

Pembicaraan terhenti saat pesanan kami datang. Membicarakan tentang nafsu terhadap seseorang tentu saja bukan hal yang perlu diperdengarkan kepada orang asing. Selepas pelayan pergi, pembicaraan berganti topik pada betapa menyebalkannya Pak Jaka.

Yah, sebegitu hebat rasa kesal para lelaki di sekolahku terhadap kelakuan guru itu. Sampai-sampai, di setiap tongkrongan, nama guru itu hampir selalu muncul bersama dengan umpatan-umpatan tak pantas. Pihak sekolah sendiri seperti melindungi dia, entah atas alasan apa.

"Eh, elu-lu pada udah tau gosip terbaru belom?" Ujar Deni mulai mengalihkan topik.

"Apaan?" Tanyaku penasaran.

"Anak SMA 2 katanya ada yang bikin bokep."

"Hah? Serius, lu?" empat pria yang lain menyahut hampir bersamaan.

"Iya, ini gue ada videonya."

Deni mengeluarkan ponselnya, kemudian mengutak-atiknya sebentar sebelum menunjukkan layarnya kepada kami semua.

Tampak seorang gadis berpakaian strip hitam putih tersenyum di depan kamera. Di belakangnya ada seorang pria yang tak mengenakan pakaian. Si gadis tampak rileks sementara si pria memainkan toketnya yang besar. Kamera yang selalu bergerak menunjukkan bahwa di ruangan itu tidak hanya ada mereka berdua.



“Perkenalkan, Dita si gadis binal,” ujar si pemegang kamera.

“Ih, apaan, sih,” jawab si gadis sambil tertawa.

“Udah siap ngentot belom, nih?” ujar si pemegang kamera lagi. Alih-alih menjawab, Dita justru mencium lelaki di belakangnya itu. Mendapati bibirnya diserang, lelaki itu membalas ciuman yang diberikan. Sembari tetap berciuman, pria itu mengangkangkan kaki Dita, membuat memeknya yang tak ditutupi celana dalam terpampang jelas. Memek itu ditumbuhi jembut hitam dengan daging berwarna kemerahan. Si pria pun dengan tanggap memainkan memek Dita, membuat ia mendesah di antara ciumannya.

“Bakat jadi artis bokep, lu,” ujar si kameraman, yang tidak digubris oleh dua sejoli itu. Tak lama kemudian, Dita bangkit dan menanggalkan satu-satunya pakaian yang ia kenakan, menampakkan tubuhnya yang telanjang bulat. Ia memosisikan diri di atas tubuh si pria yang sedari tadi sudah bugil itu. 

“Aaaahhhhh..” Dita melenguh ketika menurunkan badan, membuat kontol si pria menancap di memeknya. Perlahan, pinggulnya bergoyang maju mundur menikmati kontol itu. Pria yang beruntung itu pun tampak menikmati permainan Dita. Matanya terlihat merem melek sementara tangannya asyik meremas pinggul dan pantat gadis itu. Si kameraman tampaknya tak sabar melihat permainan mereka. Dari gerakan kameranya, tampak bahwa ia meletakkan kamera itu dengan posisi merekam dan turut naik keranjang menambah sensasi dalam permainan.

Si kameraman tampak sudah telanjang. Kontolnya diarahkan ke mulut Dita yang langsung dikulum. Dengan dua lubang yang dinikmati secara bersamaan, Dita tak tampak kesulitan. Pinggulnya tetap bergoyang sementara mulutnya tetap mengulum. Mereka bertahan dalam posisi tersebut sampai akhirnya..

“Aarrgghh,” pria yang berada di bawah mengerang. Spontan, Dita melepaskan kontol yang berada di mulutnya dan menghentikan goyangannya. Mendapati kontolnya ditinggalkan begitu saja. Si kameraman langsung meraih kepala Dita dan mengarahkan kontolnya ke mulut Dita lagi. Kali ini, kepala Dita dimaju-mundurkan dengan kasar sampai ia tersedak-sedak. Tidak lama kemudian, kontol si kameraman dilepaskan kemudian dikocok dengan cepat, dan..

Crott crrott  crrott..

Pejuhnya muncrat di wajah Dita yang tengah terbatuk-batuk. Aku yakin beberapa tetes masuk ke mulutnya juga. Begitu puas dengan orgasmenya, si kameraman mengambil kameranya lagi dan mengarahkan kamera ke memek yang di dalamnya masih bersarang sebatang kontol.

"Coba lu angkat memek elu." Perintah si kameraman. Dita mengangkat pinggulnya dan kontol yang lemas langsung terjatuh di perut si empunya. Cairan putih kental dengan lancar mengalir keluar dari memek itu. 

"Gimana rasanya crot dalem?" Tanya si kameraman ketika kamera kembali menyorot wajah Dita.

"Enak." Jawab Dita sambil mengacungkan kedua jempolnya. Video pun terhenti.

Kami berlima saling berpandangan usai menonton video itu. Libidoku mulai naik, tetapi karena bukan di situasi yang tepat, aku menahan diri. Sepertinya yang lain pun begitu.

"Lo yakin itu anak SMA 2?" Tanya Firman dengan ragu.

"Katanya sih gitu. Gue pernah liat orang yang mirip sama doi." Jawab Deni.

"Share videonya bro." Pinta Jajang tanpa ragu. Kami bertiga juga melakukan hal yang sama dengan Jajang. Setelah semua orang mendapatkan video itu, kami pun menyudahi acara nongkrong dan pulang ke rumah.

Rumah sepi seperti tak berpenghuni. Tidak ada tanda-tanda kak Eka yang biasa bersih-bersih ataupun Erlin yang biasa bermain laptop di ruang tengah. Ketika hendak masuk kamar untuk menuntaskan hasrat, sayup-sayup aku mendengar suara aneh dari ruang belakang. Kuhampiri suara itu, dan suara khas yang sangat kukenal pun makin jelas terdengar.

"Aaahhhh... Aaahhhhhh... Terus... Ahhh... Enak banget! Haahhh.."

Yang mendesah tak lain adalah kakakku sendiri, kak Eka. Tadi pagi aku sudah menyaksikan pergumulan panas ayah dan anak ini. Tak kusangka jika mereka masih melakukannya lagi, apalagi di siang hari.

Dari lubang kunci, dapat kulihat kak Eka duduk telanjang di atas tubuh ayahnya sendiri. Ayah dengan posisi terbaring menggenjot memek anaknya sendiri sampai memuncratkan cairan bening berkali-kali. Dari balik pintu tebal, aku, anak dari sang pria dan adik dari sang wanita, menikmati pergumulan mereka sambil mengocok kelaminnya.

Comments

Bugil Populer