[Raka P7] Kakak Wina yang Bernama Yama
Ting ting
ting!
Ponselku bordering
saat menerima sebuah pesan. Dengan malas, kuraih ponselku untuk membacanya. Seketika
mata yang sipit dan tubuh yang masih lemas bangun tidur langsung terjaga dengan
penuh semangat.
[Hr ini sibuk g?]
Pesan itu
dikirimkan oleh Wina, teman masa SMP yang beberapa waktu yang lalu dekat
denganku, tetapi hilang kontak lagi selama beberapa minggu. Pesan itu kubalas
dengan cepat.
[Ngga, mau main?]
[Main k rmh q yuk]
[Emang d rumahmu ada apa?]
[G ad sp2]
Senyum lebar
menghiasi wajahku. Bertandang ke rumah Wina saat tidak ada orang adalah sebuah
pertanda bahwa burungku akan dapat berganti oli dengan seorang wanita, tak lain
adalah Wina itu sendiri.
[Abis mandi aq berangkat]
Aku langsung
bangkit dari kasurku untuk mandi dan bersiap-siap. Sarapan yang sudah terhidang
di meja makan hanya kuambil selembar tempe goreng saja. Aku langsung mengambil
motor dan tancap gas ke rumah gadis itu.
[Udah d depan Win]
[Lgsg msk aj]
Membaca
pesan itu, aku celingukan seperti orang bingung. Membuka pagar rumah orang,
meski teman sendiri, membuatku merasa salah. Seperti maling yang akan beraksi
saja. Tapi kumantapkan diri dan kubuka juga gerbang itu. Toh, tidak ada yang
melihat.
Usai
memasukkan motor dan menutup gerbang kembali, aku langsung membuka pintu rumah
yang tertutup. Jantungku hampir copot ketika melihat seseosok wajah familiar
duduk di ruang tamu. Dia adalah kakak Wina, seorang gadis cantik bertubuh
montok dan berkulit putih yang sempat berpapasan denganku saat aku kabur dari
rumah ini.
"Raka,
ya? Mari silakan duduk," ujar kakak Wina mempersilakan. Aku langsung
berusaha menguasai diri dan tersenyum, kemudian menaruh pantatku di kursi.
"Kenalin, aku Yama, kakaknya Wina."
"Raka,"
jawabku sambil menjabat tangannya.
"Sama
Wina temen apa nih?"
"Temen
SMP sih kak," jawabku malu-malu. Tubuh kak Yama yang seksi terlihat
semakin seksi dengan tanktop hitam yang ia kenakan. Mataku berusaha sebaik
mungkin untuk tidak memelototi teteknya yang tampak menonjol di balik kain
hitam itu.
"Udah
pacaran dari SMP?"
"Eh,
enggak, enggak pacaran kok, kak."
"Oooh,
belum pacaran." kak Yama manggut-manggut mendengar jawabanku. “Kalo belum
pacaran, terus kenapa ngentot?”
Aku
melongo mendengar perkataan itu. “Eh, gimana?”
“Kalo
nggak pacaran kenapa ngentot?” ulang kak Yama.
Hatiku
seperti mau meledak. Badanku serasa panas dingin akibat pertanyaan yang
blak-blakan itu. Mata kak Yama menatapku tajam, membuatku bingung harus menatap
ke mana.
“Ng..
ngentot gimana, kak?” tanyaku dengan lirih dan terbata-bata. Kak Yama membalas
dengan sebuah senyum penuh hinaan, kemudian berpindah duduk di sisiku.
Tangannya dirangkulkan ke pinggangku sementara dagunya diletakkan di pundakku.
“Ngentot
itu,” bisik kak Yama di telingaku, “kalo cowok sama cewek telanjang bareng.”
Tangan kak
Yama mulai bergerak di sekitar selangkanganku. Jemarinya bergerak dengan
sensual memberikan rangsangan terhadap daerah itu sementara napas yang
terhembus dari setiap kata yang diucapkan merangsang daerah telinga.
Payudaranya yang besar otomatis menempel kenyal di lenganku.
“Terus
mereka ciuman,” lanjut kak Yama, “terus pelukan, …”
Tangan kak
Yama mulai bergerak perlahan membuka resleting celanaku. Celana dalam berwarna
putih tersembul dari baliknya. Tangan nakalnya kemudian menyibaknya,
memperlihatkan kontolku yang panjang dan besar tengah tegang.
“Wah, gede
juga ya kontolnya,” celetuk kak Yama. Ia kemudian menggenggam kontolku dan
mengocoknya pelan. Aku yang merasa sudah tak tahan langsung menciumnya. Ciumanku
disambut dengan mesra. Bibirnya terasa sedikit lebih lembut dari bibir Wina,
adiknya.
Tanganku yang
sedari tadi diam, kini mulai memberanikan diri meremas payudara yang tertutup
tanktop hitam itu. Tidak terasa sama sekali ada benda di antara tanktop dan
kekenyalan payudara kak Yama. Ketika tanganku menelusup ke dalam, aku langsung
dapat menyentuh tetek itu tanpa ada bra yang mengganggu. Putingnya terasa solid
dan lebih besar dari kepunyaan adiknya.
Kak Yama
kemudian melucuti pakaianku. Dimulai dari kaos yang aku kenakan, berlanjut ke
celana dan celana dalam hingga akhirnya aku telanjang bulat. Mendapati diriku
telanjang seorang diri, kucopot juga tanktop hitamnya. Tubuh bagian atas yang
telanjang dipadukan dengan mini jeans yang ia kenakan membuatnya tampak seksi
luar biasa.
“Pindah ke
dalem, yuk,” ajak kak Yama saat aku akan melepaskan celananya.
Aku mengangguk
saja. Ia kemudian menggandeng tanganku, mengarahkanku ke dalam. Suasana rumah tidak
berubah sejak terakhir aku ke sini. Kak Yama membuka sebuah pintu kamar,
kemudian mendorongku masuk sekuat tenaga. Pintu ditutup, kemudian kak Yama
langsung meraih kontolku dari belakang dan mengocoknya dengan cepat. Aku tertegun.
“Wina?”
ucapku lirih setengah tak percaya. Di atas Kasur, Wina tampak duduk dengan
piyamanya. Ia menatapku dan memaksakan diri untuk tersenyum. Seketika aku membayangkan scenario film dewasa di mana seorang pria
beruntung dapat mengentot kakak dan adik secara bersamaan.
“Liat nih,
cowokmu bisa ngaceng sama siapa aja. Mau ngentot sama siapa aja!” ujar kak Yama
lantang dengan nada penuh kesombongan. Tangannya masih mengocok kontolku dengan
cepat, makin cepat. Wina menundukkan kepalanya, hening.
Aku langsung
merasa ada yang aneh. Kupegang tangan kak Yama untuk menghentikan kocokannya,
tetapi tangan itu tidak mau berhenti. Dengan gerakan seperti itu, tentu saja
kontolku makin lama merasa ingin keluar.
“Kak, stop,
kak, mau keluar,” pintaku kepada kak Yama untuk berhenti.
“Loh,
bukannya enak kalo keluar?” Tanya kak Yama. “Atau, mau keluar di memek?”
Kak Yama seketika
menghentikan gerakan tangannya. Ia kemudian melepaskan celananya hingga juga
telanjang bulat, lalu mengambil posisi menunngging di samping tempat tidur,
tepat di hadapan Wina. Bokong montoknya bergoyang menggoda membuat darahku
berdesir.
“Sini
entot aku,” ujar kak Yama dengan nada manja setengah mendesah. Seketika aku
langsung memegang pantat montok itu dan mengarahkan kontolku ke memeknya.
Tidak masuk.
Kucoba sekali
lagi memasukannya, masih tidak masuk. Kucoba membuka memek itu dengan kedua
tanganku kemudian mengarahkan kembali kontolku ke lubangnya, tetap tidak bisa. Hanya
kepalanya saja yang terjepit oleh labia mayora. Dengan posisi begitu,
kupaksakan kontolku untuk masuk hingga kak Yama merintih kesakitan. Akhirnya,
kontolku dapat masuk dengan sempurna.
Memek yang
sangat seret itu kugenjot paksa. Si empunya memek pun memekik kesakitan setiap
kontolku menghentak memeknya. Tapi lama kelamaan, cairan pelumas mulai mengalir
dan membasahi lubang memek itu hingga genjotan bisa berjalan dengan lebih
lancar.
“Liat..
pacar.. kamhuu.. ngentoth.. kakak..” ujar kak Yama terbata-bata di sela
genjotan yang aku lancarkan.
Wina memalingkan
mukanya. Kucabut kontolku dari memek kak Yama, kemudian kutarik tubuh Wina
mendekat. Kulucuti piyamanya, tetapi kemudian kak Yama menggenggam tanganku.
“Belom
selesai ngentotnya sayang. Ayo lanjut sampe crot.” Ucap kak Yama sambil
mengangkangkan kakinya memperlihatkan memek dengan bulu hitam tercukur rapi
itu. Alhasil, Wina yang baru telanjang bagian atasnya kutinggalkan untuk
kembali menggenjot kakaknya.
“Mmmmhhh…
Ahhhh… Kontol gedhe emhang manthhapphh..” ceracau kak Yama di antara
desahannya. Posisi ini, di mana kak Yama duduk mengangkang di atas ranjang
sementara aku berdiri di lantai terasa sangat nyaman. Aku dapat menggenjotnya
dengan posisi setengah berdiri sehingga tanganku tidak capek menahan berat
tubuhku sendiri. Teteknya berguncang mengikuti irama sodokanku. Sesekali tetek
itu kuremas sambil putingnya kumainkan. Kak Yama tampak menikmatinya sepenuh
hati.
“Sayang,
rekam dong sayang,” pinta kak Yama. Kucabut kontolku, kemudian aku celingukan
mencari ponsel. Tampak ada sebuah ponsel di atas meja. Kuambil ponsel itu,
kemudian kubuka kameranya.
“Pura-puranya
aku diperkosa,” ujar kak Yama mengarahkan. Kamera pun mulai merekam.
Dengan kedua
tangannya, kak Yama menutupi wajahnya sendiri. Ia kemudian tampak sesenggukan
saat kontolku mulai kutancapkan dan menggenjot memeknya.
“Jangan..
Stop.. Tolong.. Hiks.. hiks..”
Mendapati acting
kak Yama yang cukup meyakinkan, aku jadi makin semangat. Genjotan semakin
kupercepat. Isakan kak Yama tampak makin meyakinkan. Kuhentak-hentakkan
kontolku hingga mentok ke dalam rahimnya. Kak Yama memekik kesakitan. Rasa nikmat
yang terakumulasi di kemaluan membuatku ingin keluar. Kuletakkan ponsel itu
supaya dapat lebih terfokus pada kegiatanku.
“Mau
keluar sayang?” Tanya kak Yama. Aku mengangguk. “Crot dalem aja.”
Mataku terbelalak
mendengar ucapan itu.
“Boleh,
kak?” tanyaku tak percaya. Kak Yama kemudian merangkul leherku dan mendekatkan telingaku
ke mulutnya.
“Crot
dalem yang banyak,” bisiknya, “penuhin rahim kakak sama pejuhmu. Hamilin kakak.
Hamilin kakak pake kontol kammmmmuuuuuuuukkkkhhhhhhhh….”
Crrrrrrrrrooootttttttt…
crrroooooooottttttt…. Ccccrrrrrooooooootttttt… crroootttt… crrroootttt…
Dunia berputar.
Tubuhku serasa melayang terbang jauh ke angkasa. Belum pernah kurasakan
kenikmatan seperti ini. Seluruh persendian di tubuhku terasa lemas.
Memek kak
Yama terasa berkedut kuat. Kucoba untuk menggenjotnya lagi, tetapi kontolku
terasa sangat sensitif sehingga aku tidak kuat untuk meneruskannya. Tubuhku terkulai
lemas di atas tubuh kak Yama. Keringat terasa mengalir di tubuh kami berdua.
Tak lama,
kucabut kontolku dari memek kak Yama. Pejuhku tampak mengalir keluar membasahi
sprei. Ponsel yang tadi tergeletak kuambil lagi untuk memfoto pemandangan indah
itu.
“Gimana?
Lebih enak memek siapa?” Tanya kak Yama.
Kupandangi
Wina yang masih memalingkan muka, kemudian kupilih jawaban dengan hati-hati. “Wah,
gimana, ya? Enak semua sih, kak.”
“Enak
semua tapi enak yang mana?”paksa kak Yama.
“Crot
dalem enak banget, sih..” jawabku pelan.
“Jadi
lebih enak memek aku?”
Aku mengangguk
pelan. Kak Yama tampak sumringah, kemudian memelukku. Ia kemudian mengantarku
ke ruang tamu di mana aku kembali berpakaian. Kami ngobrol sebentar, kemudian
berselfie bersama di mana kak Yama masih telanjang bulat tanpa pakaian sama
sekali. Setelah itu, aku pulang dengan hati riang gembira.



Comments
Post a Comment