Papa Jahat
Aku masih shock dengan berita yang kuterima lewat telepon. Tanganku gemetar seiring dengan air mataku yang perlahan keluar. Orang di seberang sana juga terisak menahan tangis. Kujatuhkan gagang telepon dan aku menangis sekencang-kencangnya. Adik-adikku yang duduk di sekelilingku pun ikut menangis, mengerti apa yang telah terjadi. Ibu telah tiada.
Tidak butuh waktu lama bagi ambulans untuk mengantarkan jenazah beliau ke rumah kami. Tetangga-tetangga pun dengan sigap mengabarkan berita duka ini ke penjuru desa. Prosesi pemakaman dilakukan hari ini juga, tanpa menunggu sanak keluarga yang jauh tempat tinggalnya untuk datang. Peti diangkat menuju perkuburan, membawa jenazah ibu kami. Meninggalkan kami yang terisak pilu. Meninggalkan sebuah lubang yang menganga lebar dalam hati kami.
Esok paginya aku sekolah seperti biasa. Teman-temanku mengucapkan turut berbela sungkawa. Beberapa di antara mereka ikut melayat, bahkan ikut masuk ke dalam rumah menghibur hatiku yang kalut. Aku hanya tersenyum melihat ketulusan hati teman-temanku dalam menyampaikan rasa bela sungkawa mereka. Beberapa menyemangatiku dengan mengatakan bahwa aku harus semangat karena kenaikan kelas sudah dekat dan UN hanya berjarak satu tahun dari kami semua. Aku kembali tersenyum menanggapi usaha mereka untuk menghiburku. Tapi lubang ini tidak juga segera terisi.
Malamnya, aku tidak bisa tidur. Begitu pula dengan adik-adikku. Bermula dari Raka, saudara laki-laki satu-satunya yang aku miliki, mengetuk pintu kamar ku sambil membawa bantal dan guling. Matanya terlihat merah tanda habis menangis. Kemudian Fitri, adik perempuanku yang sekarang duduk di bangku kelas 9 menyusul. Terakhir, si bungsu Erlin yang baru kelas 3 SD berlari menubruk ku dari balik pintu.
Berempat, kami saling memeluk dan berusaha untuk tidur. Satu-persatu, adik-adik ku yang imut dan lucu tertidur dengan lelapnya. Tapi sampai tengah malam, mataku masih begitu enggan terpejam. Aku memutuskan untuk bangkit keluar kamar dan mengetuk kamar ayah di lantai dua. Ayah membukakan pintu dan aku pun menghambur masuk memeluknya. Aku meminta izin padanya untuk tidur bersamanya malam ini dan dia mengizinkan. Aku pun terlelap di sampingnya, melupakan beban kepedihan yang aku rasakan.
Entah pukul berapa aku terbangun. Kurasakan dadaku diremas-remas dan leherku dicium-cium oleh seseorang. Kubalikkan badanku dan kulihat ayahku terbaring dengan tangan masih memainkan dadaku. Ia tersenyum.
“Ayah.” Bisikku.
“Eka sayang ayah?” tanyanya pelan.
Aku hanya mengangguk lemah. Tangan yang meremas-remas dadaku dengan cekatan melucuti seluruh pakaianku hingga akhirnya aku telanjang bulat. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa menanggapi ayah yang memperlakukanku sedemikian rupa. Aku hanya bisa pasrah dan diam menerima serangan demi serangan yang dilancarkannya kepadaku.
Mula-mula tanganku ditelentangakan ke atas kepalaku dan kakiku dikangkangkan untuk memberikan ruang baginya duduk. Dengan tangannya menahan tanganku, putingku dihisap-hisap ganas oleh bibirnya yang gelap. Aku mendesah menahan kegelian dan rangsangan yang mendera. Payudara kiriku dihisap sekuat-kuatnya sehingga sebagian masuk ke dalam mulutnya. Begitu pula payudara kananku, dihisap kuat-kuat sampai masuk juga ke dalam mulutnya.
Aku memekik setiap kali payudaraku dihisap kuat dan digigit-gigit kecil. Seluruh bagian dadaku basah kuyup oleh ludah. Beberapa bercak merah bekas cipokan menghiasi dada dan leherku. Dijilatinya pula pipi dan telingaku membuatku makin terangsang oleh dominasinya atas tubuhku. Suara kecipak di telingaku akibat permainan lidahnya semakin merangsangku, membuatku tidak segan lagi untuk mendesah dan mengerang mengekspresikan kehornian.
Ayah bangkit berdiri meninggalkan dada, leher dan wajahku yang basah kuyup oleh ludahnya. Ditanggalkannya pakaian yang ia kenakan sehingga kami berdua telanjang bulat. Kembali diposisikan tubuhnya di atas tubuhku. Kali ini tanganku langsung kurangkulkan ke lehernya. Dikecupkannya bibirnya ke bibirku, disusul dengan kuluman dan isapan sambil lidah kami sesekali beradu. Suara bibir kami yang beradu memenuhi ruangan menciptakan suasana erotis dan romantis, menjadi saksi atas kelakuan bejat kami.
Sambil mulut kami tetap beradu, tangannya dimainkan di sekitar vaginaku. Digesek-gesek dan diputar-putarkan jemarinya yang tebal di bibir vaginaku. Aku mengerang menerima rangsangan dahsyat di selangkanganku ini. Vaginaku yang sedari tadi basah jadi makin basah karena permainan jari ayahku. Sesekali diselipkannya jarinya ke liang kewanitaanku sampai menyentuh selaput daraku. Ya, aku memang masih perawan dan dari apa yang terjadi malam ini, aku tahu bahwa perawanku akan direnggut malam ini juga oleh ayahku sendiri.
Diarahkannya jarinya yang basah kuyup oleh cairan cintaku ke mulutku sendiri. Langsung kusambut jari itu dengan melahapnya dan menjilatinya sampai habis. Dimainkan kembali vaginaku sampai jarinya basah kuyup dan disuapkan kembali cairan cintaku ke dalam mulut ku sendiri. Diulanginya perlakuan ini hingga beberapa kali sampai akhirnya ia bangkit dan mengangkangkan kakiku lebih lebar.
Penisnya yang hitam dan berurat dikocok sedikit sebelum diarahkan ke mulut vaginaku. Kupersiapkan jiwa dan ragaku menghadapi momen ini. Sempat kudengar dari beberapa temanku yang sudah berpengalaman bahwa pertama kali penetrasi rasanya sakit sekali. Tapi malam ini aku siap. Aku suda merelakan jiwa dan ragaku untuk memuaskan ayahku malam ini.
Kurasakan penisnya mulai menyentuh vaginaku. Dimainkannya sebentar dengan dimaju-mundurkan di bibirnya. Sambil tetap memaju-mundurkan perlahan, penisnya perlahan masuk ke dalam vaginaku. Sedikit demi sedikit, penis itu akhirya menyentuh selaput daraku. Dilesakkan sedikit penisnya sehingga selaput itu robek. Aku memekik pelan menahan sakit. Tapi rasa sakit itu tidak berlangsung lama. Mungkin karena kondisi yang sangat basah atau karena faktor lain.
Bless.. Akhirnya seluruh penis ayah masuk ke dalam vaginaku. Sedikit rasa nyeri masih kurasakan, tapi tidak seburuk cerita teman-temanku. Ayahku diam cukup lama. Aku mulai menikmati benda hitam yang mengganjal di dalam vaginaku ini. Dikeluar-masukkan penisnya yang kurasa cukup besar ini sehingga aku kembali mendesah. Dari tempo pelan, perlahan naik ke tempo yang lebih cepat, dan akhirnya sampai ke tempo yang sangat cepat.
Aku mengerang menahan kenikmatan yang menjalar di seluruh ujung syarafku. Aku hanya bisa pasrah menerima hujaman pedang tumpul ini. Saking cepatnya hujaman yang menerpa, sampai-sampai aku merasa seakan penis ayah bukan menghujam, tapi bergetar sangat hebat.
Kenikmatan ini benar-benar sesuatu yang baru bagiku. Aku merasa tidak berdaya menerima perlakuan sedemikian rupa. Tubuhku sesekali kejang karena berusaha menahan agar tidak berteriak. Dari vaginaku dapat kurasakan akan ada sesuatu yang keluar. Tapi tepat sebelum sampai pada klimaksnya, ayahku menghentikan permainan ini.
Aku kecewa. Tapi kemudian dia membalikkan badanku sehingga aku tengkurap. Bokongku sedikit dinaikkan dan kakiku dikangkangkan, kemudian penisnya ditusukkan kembali ke dalam memekku. Blessss... Sensasi yang luar biasa. Kakiku yang mengangkang dirapatkan dan tubuh ayah yang besar menindih tubuhku yang lebih kecil dan lemar ini. Sebuah bantal diletakkan di dadaku sebagai pegangan tanganku.
Penis itu mulai menggenjot lagi. Tapi kali ini aku tidak merasakan kelembutan dalam tusukan seperti sebelumnya, melainkan sebuah keliaran yang menaklukan. Kubekapkan mulutku sendiri ke dalam bantal yang aku pegang supaya teriakan dan erangan tidak terlalu berisik.
Setiap tusukannya begitu perkasa. Suara kecipak mulai terdengar dari kelamin kami yang saling beradu. Genjotannya semakin cepat sementara air mata mulai meleleh dari sudut mataku. Kakiku dirapatkan kembali setiap kali mulai meregang. Leher dan pundakku menjadi sentapan empuk lidah ayah yang selalu haus akan tubuhku.
Plak. Plak. Plak.
Pantatku ditampar-tampar dengan keras. Rasa sakitnya sudah tidak aku pedulikan. Liurku mulai menetes membasahi bantal. Mataku semakin naik membuat bagian putihnya saja yang terlihat. Sesuatu kembali terasa di vaginaku. Aku akan klimaks. Kufokuskan seluruh inderaku pada kenikmatan yang kurasakan di selangkanganku. Hampir sampai. Terus. Aaahhh. Sedikit lagi. Serrr. Serr. Seerrr. Serr. Kurasakan vaginaku menyemburkan cairan dengan liar. Aku serasa terbang menuju sebuah dimensi yang tak mampu kujelaskan. Tubuhku sudah sangat lemas. Bahkan untuk tetap sadar pun, aku harus berusaha keras. Tapi ayahku tidak menghentikan genjotannya sama sekali.
Sepertinya ayah tidak akan mengakhiri permainan ini dengan segera. Genjotannya mulai melambat, tapi setiap tusukannya begitu dalam hingga kurasakan menyentuh rahimku. Tempo yang melambat ini membuatku dapat mengumpulkan sisa-sisa tenagaku. Aku mencoba mengimbangi setiap tusukannya dengan goyanganku sendiri.
Cpakcpakcpakcpakcpak. Tanpa aba-aba ayahku langsung menggenjot dengan kecepatan tertingginya. Aku yang kaget berusaha menghindar, tetapi sia-sia karena tanganku langsung dicengkeram membuatku tidak bisa kabur. Keperkasaan ayah benar-benar telah menaklukan seluruh jiwa dan ragaku.
Genjotannya yang kesetanan tiba-tiba berhenti tepat ketika penisnya menghujam pada titik terdalam. Crrott. Crott. Crrottt. Crrooott. Crrott. Kurasakan di dalam vaginaku, cairan hangat memenuhi setiap rongganya. Aku tidak sempat menghitung berapa kali ayah memuncratkan spermanya, tapi yang jelas banyak sekali.
Setelah puas, ayahku ambruk menimpa tubuhku yang berada tepat di bawahnya. Aku berusaha menggeliat menyingkirkan tubuh ayah yang berat. Berhasil. Kulihat dia terbaring lemas di samping tubuhku yang telah ternoda ini. Aku langsung keluar kamar setelah memakai kembali pakaianku, meninggalkan ayah yang tertidur dalam keadaan telanjang bulat. Kulihat dari celah jendela, matahari telah menyingsing di ufuk timur. Aku termenung sejenak. Jauh di dalam hatiku aku tahu. Peristiwa malam ini hanyalah sebuah permulaan.


Comments
Post a Comment