[Annelies] Perselingkuhan dan Pemerkosaan

Memasuki ibukota kerajaan, pemandangan sudah sangat berbeda dari yang dilihat selama perjalanan. Hutan dan pepohonan sudah digantikan bangunan-bangunan tinggi. Jalan yang tadinya hanya tanah, kini sudah diperkuat bebatuan rapi. Orang-orang berlalu-lalang dari beragam status sosial, mulai dari bangsawan hingga rakyat jelata dan para budak.

Kereta kuda yang Annelies naiki bersama suaminya menyusuri jalan kota dengan perlahan. Meski jalan lebih halus, tetapi kepadatan penduduk yang berlalu-lalang membuat kusir harus berhati-hati. Mereka langsung menuju istana, di mana mereka disambut dengan penuh hormat. Annelies dan Elrond langsung diarahkan menuju kamar mereka sementara rombongan pengawal dan pelayan diantarkan ke tempat masing-masing.

Kamar mereka berada di salah satu koridor panjang di mana puluhan pintu berjejer rapi, tempat para undangan bermalam. Mereka diarahkan oleh dayang ke salah satu kamar. Tidak ada penanda khusus selain vas bunga yang dipajang di samping pintu. Annelies tak yakin jika ia bisa kembali ke kamarnya sendiri jika tidak diantar seseorang.

Begitu masuk ke kamar, Elrond langsung mendorongnya ke ranjang. Dengan tak sabar ia melucuti pakaian Annelies dan pakaiannya sendiri hingga keduanya telanjang bulat. Penis diarahkan ke vagina, namun tidak masuk dengan mudah. Tentu saja, vagina Annelies masih kering. Tidak akan mudah bagi penis yang kecil pun untuk masuk jika tidak dalam kondisi basah.

Dengan memaksa, akhirnya penis Elrond dapat masuk. Dengan kasar ia goyangkan penisnya keluar masuk vagina Annelies. Mendapati perlakuan itu, tentu saja Annelis merasa kesakitan. Tapi ia menahan rasa sakit itu sebaik mungkin demi tidak terlihat lemah.


Seperti biasa, tak butuh waktu lama bagi Elrond untuk mencapai klimaks. Spermanya dimuntahkan seluruhnya ke dalam rahim Annelies. Rasa puas tersirat di wajahnya. Begitu orgasme selesai, ia langsung mencabut penisnya dan memakai baju lagi.

Dengan sperma yang masih menetes, Annelies bangkit. Napasnya terengah akibat perlakuan suaminya sendiri. Ia kemudian turun dari ranjang dan ikut memakai baju. Mereka berdua keluar sebagai suami istri yang akur.

Salah satu kewajiban seorang bangsawan, tentu saja adalah beramah tamah dengan bangsawan lainnya. Mereka berkeliling istana untuk bertegur sapa dengan yang lain. Orang tua dan saudara Annelies sudah sampai terlebih dahulu, tetapi mereka tidak menginap di istana, melainkan di sebuah gedung miliki keluarga utama. Annelies beranikan diri untuk mengajak suaminya berkunjung, dan tanpa disangka, disetujui.

Mereka berdua berangkat dengan kereta kuda di sore hari. Orang tua Annelies menyambut mereka dengan suka cita. Mereka dijamu dengan buah-buahan dan minuman terbaik yang ada. Elrond dan ayah Annelies mengobrol layaknya teman lama. Annelies bersama ibunya dan menceritakan segala keluh kesahnya. Air mata sempat menetes dari pipinya, tetapi ibunya menguatkannya.

Malam tiba. Saatnya untuk pulang. Annelies dan suaminya kembali menaiki kereta kuda mereka ke arah istana. Jalan yang mereka lewati berbeda dari jalan keberangkatan. Jalan kali ini lebih sepi, mungkin karena malam. Di suatu sudut, jalanan tampak lebih ramai. Namun jika diperhatikan, mereka yang ada di luar adalah wanita-wanita dengan pakaian seksi yang menggoda orang-orang yang lewat.

Elrond berdehem. Kereta berhenti. Tanpa sepatah kata pun, Elrond turun dari kereta. Annelies tahu apa yang akan suaminya lakukan. Ia diam saja membiarkan.

Dari dalam kereta, Annelies dapat melihat suaminya menghampiri seorang gadis berambut pirang. Wajahnya tampak polos dibanding yang lain, tetapi pakaiannya yang transparan dan menampakkan puting dan memeknya sendiri sama sekali jauh dari kata polos. Annelies dapat melihat suaminya mencium bibir gadis itu, kemudian meremas payudaranya sebelum kemudian merangkul pinggulnya untuk masuk ke dalam rumah bordil.

Kereta kembali berjalan. Annelies kini sendirian. Sesampai di istana, ia minta diantarkan ke kamarnya. Usai berganti baju tidur, ia merebahkan diri untuk beristirahat.

Tengah malam Annelies terbangun. Tenggorokannya terasa kering sedangkan kandung kemihnya meronta ingin mengeluarkan isinya. Ia kemudian keluar kamar dan mencari dayang. Begitu ketemu, ia langsung minta diantar ke kamar mandi, kemudian meminta air minum usai menuntaskan urusannya.

Saat kembali ke kamar, ia merasa sedikit tersesat. Beberapa saat Annelies berputar-putar sebelum akhirnya yakin akan satu pintu yang mirip dengan pintu kamarnya. Saat pintu itu dibuka, ruangan tampak gelap sebagaimana saat Annelies tinggalkan. Meski tak dapat melihat jelas, tetapi Annelies yakin kamar itu adalah kamarnya karena jika kamar lain, pasti akan terkunci.

Annelies menanggalkan mantel yang ia kenakan untuk menutupi pakaian tidurnya yang tampak seksi, kemudian merebahkan diri kembali. Tak butuh waktu lama baginya untuk tertidur.

Dini hari, Annelies merasa tubuhnya dijamah seseorang. Payudaranya diremas-remas dan lehernya diciumi. Ia mengira itu adalah suaminya sehingga ia berusaha untuk lanjut tertidur. Akan tetapi, serangan itu tak berhenti. Vaginanya kini diraba dan dipermainkan hingga ia merasakan kenikmatan.

Tak butuh waktu lama bagi Annelies untuk merasa panas. Napasnya mulai memburu. Vaginanya yang mulai basah menjadi semakin basah saat klitorisnya dipermainkan. Rangsangan napas di dekat telinga serta ciuman dan jilatan yang diberikan membuatnya merinding nikmat. Baju tidurnya yang satu per satu dilucuti entah ada di mana.

"Aaahhhhh.." Desah Annelies saat sebatang penis berusaha memasuki vaginanya. Berbeda dari biasanya, dorongannya lebih lembut dan tidak memaksa. Penis itu dimaju mundurkan pelan sembari melumasi batangnya serta lubang kenikmatan Annelies.

Saat batang penis masuk seluruhnya ke dalam memek Annelies, Annelies membuka mata. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui lelaki yang tengah menggagahinya bukanlah suaminya. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Penis lelaki itu sudah sepenuhnya masuk ke dalam vagina Annelies dan kini sudah bergerak maju mundur.

Annelies hanya bisa pasrah. Kenikmatan yang menjalari vaginanya perlahan menyebar. Selama ia menikah, belum pernah sekalipun Annelies merasakan kenikmatan dari hubungan seksual. Malam ini, kenikmatan itu justru ia dapatkan dari seseorang yang tidak ia kenal.

Desahan Annelies semakin kencang. Napasnya semakin memburu seiring dengan goyangan penis yang semakin cepat. Tangan pria itu tidak tinggal diam. Dengan tangan kanannya, ia mencengkeram bokong Annelies sementara tangan kirinya memilin-milin putingnya sambil sesekali meremas payudaranya. Mulutnya sibuk menciumi wajah Annelies sambil sesekali turun ke leher dan juga telinganya. Semua rangsangan itu adalah hal baru bagi Annelies, dan semua ia terima dengan lapang dada.

Annelies merasakan vaginanya mulai berkedut. Kenikmatan yang ia rasakan hampir mencapai puncaknya. Tanpa sadar, Annelies mulai turut menggoyangkan pinggulnya menyongsong hujaman penis ke dalam rahimnya. Tak lama, ia merasa ingin pipis. Rasa kebelet pipis dipadukan dengan hujaman yang ia terima membuat perpaduan kenikmatan yang tak terbayangkan.

Tanpa sadar Annelies mengangkat pinggulnya. Hujaman yang diterima rahimnya membuatnya mengejang. Rasa ingin pipis sudah tak tertahankan. Akhirnya Annelies tak peduli. Ia pasrahkan pipisnya untuk keluar. Pipis itu pun keluar bersamaan dengan tarikan penis.

Annelies merasa lega. Ia kini dapat menikmati hujaman penis pria asing itu dengan lebih nyaman. Entah sudah berapa lama ia disenggamai. Setiap kenikman terasa hampir mencapai puncak, ia lampiaskan dengan mengeluarkan cairan pipis dari memeknya. Sudah tiga kali ia melakukan itu. Matahari pun kini sudah terbit.

Goyangan penis lama kelamaan terasa makin kuat. Si pria tampaknya sudah hampir sampai. Annelies dengan sendirinya berinisiatif menggoyangkan pinggulnya dengan makin ganas. Di saat terakhir, rahim Annelies ditusuk sedalam-dalamnya oleh penis pria itu. Annelies berusaha tetap bergoyang, tetapi muntahan sperma yang terasa panas memenuhi rahimnya membuatnya turut melayang dalam kenikmatan.

Kedua insan kini terdiam. Napas keduanya saling memburu dan keringat membasahi tubuh keduanya. Saat pria itu mencium bibir Annelies, Annelies berusaha menyambutnya dengan sebaik mungkin. Begitu tenaga sudah mulai terisi, penis dicabut dari memek Annelies. Seketika sperma yang dimuntahkan di rahim membanjir keluar.

Annelies merasa puas. Baru kali ini ia tahu bahwa seks dapat mendatangkan kenikmatan. Dipeluknya tubuh telanjang pria asing itu, kemudian keduanya terlelap.

Comments

Bugil Populer