[Annelies] Pernikahan Tak Seindah Kata Orang
Terlahir dalam keluarga bangsawan tidak lantas membuat seseorang bahagia. Intrik politik, peperangan, hierarki dan status sosial yang selalu ada membuat seorang bangsawan tidak bebas dalam bergerak. Tak terkecuali seorang putri dari Billmarc, sebuah wilayah kecil dari kerajaan Credia.
![]() |
| Putri Annelies |
Namanya Annelies. Ia adalah cucu dari tuan Meldric, bangsawan dengan status sosial dan kekayaan yang biasa saja. Sebenarnya bukan masalah jika ia adalah cucu dari anak pertama. Sayangnya, ia adalah cucu dari anak kedua di mana ayahnya sudah tidak memiliki harapan untuk mewariskan tahta dan titel kakeknya. Oleh karenanya, pernikahan adalah jalan keluar untuk menjamin masa depan sang putri, begitu pikir sang ayah.
Begitu datang bulan di usia 14, ia langsung dinikahkan dengan seorang bangsawan duda yang lebih tinggi status sosialnya meski mereka terpaut jarak 40 tahun. Si bangsawan memang kaya. Poin plus karena ia tak memiliki anak. Harapannya, dengan menikahi Annelies, si bangsawan dapat memiliki keturunan.
![]() |
| Tuan Elrond |
Pernikahan berlangsung cukup meriah. Bangsawan lain dari daerah sekitar datang untuk turut merayakan. Pesta diadakan sepanjang hari dan Elrond, sang suami baru Annelies, memamerkan istrinya ke setiap tamu yang datang. Semua memberikan doa supaya pernikahan mereka langgeng dan memiliki banyak keturunan. Namun wajah Annelies urung memberikan senyum.
![]() |
| Annelies di Hari Pernikahan |
Hingga malam hari, pesta masih tetap meriah meski tamu sudah berkurang. Elrond tampak sangat mabuk hingga mukanya merah padam. Ia masih tampak bahagia dan tertawa kencang pada tiap humor yang diberikan. Bahkan hingga malam telah larut, pesta tetap berjalan hingga akhirnya satu per satu tumbang oleh alkohol.
Seorang dayang mendatangi Annelies. Ia mengantarkan gadis itu ke kamar barunya di kastil Elrond. Letaknya di salah satu menara tertinggi. Dengan tubuh yang letih karena seharian menemani suaminya berpesta, Annelies memaksakan diri untuk menaiki anak tangga satu per satu.
Kamar itu megah dengan dekorasi yang mewah. Lampu lilin besar tergantung di atap kamar. Kasurnya tampak empuk dengan sprei putih bersih terpasang. Sebelum beranjak tidur, sang dayang membantunya melepaskan gaun putih pengantin yang ia kenakan dan menggantinya dengan sepotong pakaian aneh. Pakaian itu terlihat transparan dan tidak menutup bagian apapun di tubuhnya. Saat ditanya, sang dayang hanya menjawab bahwa Tuan Elrond akan senang jika ia melihatnya dengan pakaian itu.
![]() |
| Pakaian Aneh Annelies |
Malam itu Annelies tak bisa tidur. Meski lampu kamar sudah dimatikan dan suasana sunyi senyap, matanya tetap tak bisa terlelap. Pakaian yang ia kenakan membuatnya merasa kedinginan. Selimut tipis yang ia kenakan hanya memberikan sedikit kenyamanan. Tapi akhirnya, dengan usaha dan mungkin juga karena ia telah lelah, mimpi menghampirinya.
Annelies tertidur hingga matahari meninggi. Tak ada yang membangunkannya. Karena lapar, ia kemudian memutuskan untuk langsung turun ke bawah. Di luar, ia berpapasan dengan seorang pria kurus berkumis dan jambang tipis dengan rambut klimis. Sang pria memperhatikan Annelies dari atas sampai bawah, kemudian berkata, "Nona muda sungguh pemberani."
Annelies membungkuk memberi salam, kemudian berlalu. Saat melewati pria itu, pantatnya ditampar kencang hingga ia memekik kaget. Si pria hanya memberikan senyum licik dan berlalu begitu saja.
Annelies tak sempat protes. Ia memendam rasa sebal dan berjalan dengan amarah. Saat berpapasan dengan seorang dayang, sang dayang tampak terkejut, kemudian langsung menghampirinya. Si dayang kemudian bertanya kenapa Annelies keluar kamar dengan pakaian seperti itu, dan dijawabnya dengan jujur bahwa dayang yang semalam memberitahu bahwa Tuan Elrond akan senang saat melihatnya mengenakan pakaian itu. Sang dayang kemudian mengantarkan Annelies kembali ke kamarnya dan berjanji untuk mengantarkan makanan untuknya.
Annelies mengangguk riang. Ia kembali ke kamar dan tak lama, dayang lain datang membawakan sarapan untuknya. Ia makan dengan lahap hingga habis. Tak lama, pintunya diketuk dan Tuan Elrond masuk. Ia tersenyum menatap Annelies.
Tanpa basa-basi, Elrond langsung menanggalkan pakaiannya hingga telanjang bulat. Annelies kaget, tapi ia berusaha menguasai diri. Elrond kemudian mencium bibirnya dan mengangkat tubuhnya ke kasur. Baju transparan yang ia kenakan dilepaskan hingga kini Annelies benar-benar telanjang bulat.
Elrond mengambil sebuah botol di meja, kemudian menuangkan cairan kental di dalamnya ke penisnya dan meratakannya. Ia kemudian mengarahkan kontolnya ke vagina Annelies dan dengan sekali sentak, kontol itu masuk seluruhnya.
Annelies berteriak kencang dan menangis. Vaginanya seperti dirobek dan dicabik-cabik saat penis itu masuk ke dalam liangnya. Rasa sakit itu diperparah oleh gerakan Elrond yang maju mundur membuat penis itu keluar masuk ke dalam vaginanya. Untunglah kegiatan Elrond tak lama. Cairan hangat terasa ditembakkan ke dalam perutnya. Sesaat kemudian, penis dicabut dan Elrond rubuh di samping tubuh Annelies.
Dari vaginanya keluar cairan putih dengan sedikit bercak merah. Annelies menangis sejadi-jadinya, tetapi neraka itu tidak berakhir hari itu saja. Esoknya, Tuan Elrond datang lagi ke kamarnya dan melakukan hal yang sama. Begitu pula esoknya, esoknya, dan esoknya. Setiap hari, Annelies harus melayani birahi suaminya yang tak pengertian itu.
Annelies bersyukur, rasa sakit itu perlahan menghilang. Meski tidak bisa dibilang nikmat, lama kelamaan memek Annelies terbiasa dengan kontol suaminya. Syukur juga suaminya tak tahan lama. Tak sampai lima menit, rahim Annelies sudah terisi dengan sperma. Selang dua minggu sejak pernikahannya, Annelies akhirnya datang bulan dan sang suami tak lagi datang menemuinya.
Annelies senang. Meski memeknya berdarah-darah karena siklus bulanan, setidaknya sang suami tidak datang untuk "menyiksanya". Ia dapat melakukan berbagai hal yang ia inginkan, meski tidak semua diperbolehkan. Contohnya, ia boleh bermain di taman dan berkebun, tetapi ia tidak boleh pergi keluar kastil dan harus mengenakan pakaian yang diperbolehkan oleh suaminya. Pernah ia mengenakan pakaian yang suaminya tak suka, ia kemudian ditampar dan disetubuhi dengan makin kasar.
Di hadapan para tamu yang mengunjungi kastil, Tuan Elrond tampak membanggakan istrinya yang muda dan cantik. Tapi di balik itu, ia tak pernah memperlakukan Annelies dengan baik.
Tiga bulan pernikahan, Annelies rindu kampung halaman. Ia meminta izin untuk pergi menemui ayahnya, tapi suaminya menolak. Ia tak berani meminta lagi, apalagi memaksa. Ia takut suaminya akan kasar lagi. Yang bisa ia lakukan hanyalah menangis di kamar.
Begitulah kehidupan baru Annelies. Pernikahan yang orang tuanya harap akan membahagiakannya justru menjadi petaka baginya. Suaminya yang mandul memperlakukannya dengan kasar dan penuh aturan sedang tak seorang pun di sana yang dapat membantunya. Yang dapat membantu, mungkin, hanyalah keajaiban.













Comments
Post a Comment